Sabtu, 31 Desember 2016

Mads Lange dalam Bingkai Sejarah Kuta Bali

Siapa tak kenal Kuta Bali? Penyuka pantai dan ombak bahkan menjadikan Kuta sebagai destinasi wisata favorit. Pria berkebangsaan Denmark Mads Johansen Lange ikut andil dalam sejarah Kuta. 


monumen mads lange
makam mads lange di dekat Kuta Bali

Ya, Mads Johansen Lange. Ia pria berkebangsaan Denmark. Tahun 1956 ia meninggal dan dimakamkan di Bali.  

Makam Mads Lange berada ada di bagian timur Kuta, di samping Tukad Mati, berjarak sekitar 100 meter dari jalan By Pass Ngurah Rai Kuta. Ada jalan bernama Tuan Lange. Itu menunjukkan Lange bukan manusia sembarangan. Namanya diabadikan sebagai nama jalan. 

Sayangnya, tempat ini pun takinformatif sebagai  objek wisata. Padahal lokasi ini bisa saja dikemas sebagai sebuah wisata sejarah, misalnya dengan keterangan lebih jelas tentang siapa Mads Lange dan bagaimana perannya dalam perkembangan Kuta.

Tak banyak yang bisa dilihat di makam Mads Lange. Hanya ada monumen setinggi sekitar 3 meter dengan tulisan Sacred to the Memory of Mads Johansen Lange. Monumen ini agak terpisah dari kuburan-kuburan lain di kompleks kuburan Tionghoa tersebut.

Dalam berbagai buku tentang Kuta disebutkan bahwa pada zaman penjajahan Belanda, Kuta jadi salah satu pusat perdagangan di Bali. Saat itu, seorang warga Denmark bernama Mads Johansen Lange menjadi syahbandar Kuta. I Made Sujaya dalam bukunya Sepotong Nurani Kuta (LPM Kuta, 2004) menyebut bahwa di tangan Tuan Lange, demikian warga Kuta biasa menyebutnya, ini Kuta makin berkembang menjadi sangat maju dan terkenal.

Menurut Wikipedia,  ia lahir di Rudkobing, Denpark, 18 September 1807 dan meninggal di Kuta, Bali 13 Mei 1856 pada umur 48 tahun. Relatif muda. Ia dianugerahi Orde Singa Belanda, dan menerima medali emas dari pemerintah Denmark atas pencapaiannya. Atas jasanya, Kuta berkembang sebagai kawasan perdagangan internasional pada awal abad ke-19. Ia biasa dijuluki Raja Bali (Kongen af Bali)

Mads Lange pertama kali berlayar pada usia 18 tahun dan akhirnya terdampar di Lombok pada tahun 1834. Dia lalu berdagang mengekspor kopi, beras, buah, rempah-rempah dan tembakaug. Mads Lange juga mengimpor aneka tekstil dan senjata. Namun, karena bermasalah dengan seorang Inggris bernama George King, akhirnya ia pindah ke Bali pada tahun 1839 dan tinggal di Kuta, tempat ia meneruskan usaha dagangnya.

Pada tahun 1844, Lange diangkat sebagai agen resmi pemerintahan Hindia Belanda, mengingat hubungan pribadinya yang erat dengan masyarakat Bali kelas atas terutama I Gusti Gde Ngurah Kesiman (Raja Kesiman) dan juga koneksi dagangnya. Namun, peran barunya hanya bersifat tipu muslihat karena saat itu Belanda sedang menyerang Bali utara dan memblokade jalur laut di selatan. Atas usahanya, Lange dapat mempertemukan Bali dan Belanda di meja perundingan. Setelah penandatanganan perjanjian tersebut, diadakan pesta besar di rumah Lange yang dihadiri oleh 30.000 orang.

Lange memiliki 2 orang putera dari Nyai Kenyer, seorang wanita Bali, bernama William Peter (l. 1843) dan Andreas Peter (1850), dan seorang puteri bernama Cecilia Catharina (1848) dari pernikahannya dengan Ong Sang Nio, wanita Tionghoa. Cecilia kemudian pindah ke Johor, menikah dengan Sultan Abu Bakar dari Johor dan memiliki seorang anak, Ibrahim yang kemudian menjadi Sultan Johor menggantikan ayahandanya.

Pada tahun 1856, Lange sakit dan mohon pensiun, serta memutuskan untuk kembali ke Denmark, namun sayang dia meninggal pada saat kapal yang akan ditumpangi akan berangkat dan akhirnya dia dikubur di Kuta, dan makam Lange dapat terlihat dari Jl. Bypass Ngurah Rai yang menghubungkan Kuta-Sanur. Untuk memperingati Lange, sebuah jalan di Kuta dinamai Tuan Lange.

Pantai Kuta di Bali mulai dikenal sejak 1336 M, dimana Gajahmada dan pasukannya dari Majapahit, mendarat di bagian selatan pantai ini. Karena sering menjadi lokasi persinggahan, pelan-pelan daerah ini menjadi pelabuhan kecil. Warga pun menyebut kawasan di Banjar Segara Kuta ini dengan nama Pasih Perahu yang berarti pantai perahu.

Lantas, sebagaimana saya tulis di atas, Mads Lange, datang ke Bali untuk mendirikan basis perdagangan di Kuta.


Kuta semakin diperhitungkan setelah penulis Hugh Mahbett menerbitkan buku berjudul “Praise to Kuta” yang berisi ajakan kepada masyarakat setempat untuk menyiapkan fasilitas akomodasi wisata. Buku ini bertujuan untuk mengantisipasi ledakan wisatawan yang berkunjung ke Bali. Buku tersebut kemudian menginspirasi banyak orang untuk membangun fasilitas wisata seperti penginapan, restoran dan tempat hiburan.
sejarah kuta
foto mads lange yang berperan dalam sejarah kuta

Padahal tahun 1960-an Pantai Kuta masih sunyi. Para wisatawan pun belum banyak dan mereka dengan santainya telanjang di pantai.

Menjelang akhir 1960-an, Kuta menjadi tempat favorit kaum hippies. Mariyuana, dan obat-obatan lain banyak dijual di sini. Namun setelah tahun 1970-an, turis sudah tidak bisa bebas lagi Mulai ada larangan turis telanjang di pantai. Namun tetap saja Pantai Kuta difavoritkan. 

Waktu itu hotel-hotel tidak banyak sebaliknya Kuta dipenuhi penginapan yang dimiliki penduduk lokal. Di sepanjang Pantai Kuta waktu itu masih terdapat perahu nelayan. 

Kuta tumbuh semakin pesat sebagai tempat wisata andalan setelah Bandara pindah dari Kabupaten Singaraja di kawasan Bali Selatan, Kuta semakin dipenuhi bagunan dan akomodasi untuk kegiatan wisata.

Pada tahun 2002 dan 2005 Kuta sepi akibat bom. Banyak negara melarang warganya untuk datang di Indonesia. Memang, pada serangan pertama, 12 Oktober 2002, teroris berhasil  menewaskan sebanyak 202 orang dan 209 orang lainnya cedera. Sedangkan serangan kedua terjadi pada 2005 tepat di Pantai Kuta.

Namun seiring berjalannya waktu, kuta terus mengalami perbaikan-perbaikan. Pemerintah daerah Bali membuat rencana induk pengembangan wilayah ini untuk melestarikan pantai Kuta sebagai sebuah tempat wisata bernuansakan alam. 

Mengenal Tenganan Pengringsingan, Desa Bali Asli

Desa Tenganan, Bali, dihuni oleh orang Bali Aga, yakni Bali Asli atau Bali Mula. Jadi, sebelum orang-orang Bali yang sekarang, yang berasal dari Kerajaan Majapahit datang, merekalah penghuni Bali. Kedatangan orang baru membuat mereka mengungsi di desa mereka yang sekarang. Keunikan-keunikan mereka mengundang banyak pihak, baik peneliti maupun wisatawan datang ke Desa. Seperti apa keunikan itu? 


wisata candidasa
memakai kain gringsing di desa tenganan. sumber: desysuar.blogspot.co.id

Desa Tenganan, Karangasem berlokasi berdekatan dengan spot wisata Candidasa, 70 km dari Bandara Ngurah Rai. Perjalanan dari Bandara ditempuh dalam waktu 1,5 sampai 2 jam. Berkunjung ke Desa ini kita mendapati penduduk yang ramah dengan rumah-rumah unik. Kulit mereka sawo matang. Wajah umumnya berbentuk flat.  

Umumnya mereka hidup bertani. Namun ada pula yang menjadi perajin ukir-ukiran, penganyam bambu dan penenun. Di banyak rumah di desa ini seringkali didapati mereka menenun kain gringsing yang sangat eksotik. Tak heran bila desa mereka juga disebut Tenganan Pengringsingan. 

Tenganan memiliki tradisi ritual Perang Pandan (mageret pandan) yang berlangsung setiap tahun pada pertengahan Bulan Juli. Saat perang pandan kita melihat dua pemuda desa saling sabet memakai duri-duri daun pandan, sampai menimbulkan luka. Luka tersebut akan diobati dengan obat tradisional alami yakni umbi-umbian. Luka tersebut akan sembuh dalam hitungan beberapa hari. 

Tenganan berasal dari kata ngatengahang (bergerak ke tengah). Ini berkaitan dengan cerita berpindahnya warga Tenganan dari pesisir Pantai Ujung mencari tempat lebih ke tengah.

Versi lainnya menyebut Tenganan berasal dari tengen (kanan). Ini berkaitan dengan cerita warga Tenganan berasal dari orang-orang Peneges. Peneges berarti pasti atau tangan kanan.

Sedangkan kata "Pegringsingan" diambil dari kata gringsing yang terdiri dari kata gring dan sing. Gring berarti sakit dan sing berarti tidak . Jadi gringsing berarti tidak sakit , selain itu gringsing merupakan kain tenun ikat ganda khas Tenganan, sehingga diyakini orang yang memakai kain
Gringsing dipercaya dapat terhindar dari penyakit. Lebih kompleks lagi gringsing adalah penolak mara bahaya. 

Masyarakat Bali Aga percaya gringsing memiliki kekuatan magis yang melindungi mereka dari sakit dan kekuatan jahat. Tenganan adalah cerita tentang masyarakat yang terus berjuang mempertahankan identitas yang mereka banggakan sebagai orang Bali asli. Karena gringsing begitu penting dalam kehidupan masyarakat Tenganan, kain ini seperti cermin perjalanan kehidupan masyarakat setempat. Sampai sekarang masih ada yang mengira warna merah gringsing berasal dari darah. Mungkin kain gringsing merah yang digunakan paragadis dalam perang pandan menjadi penanda betapa beratnya pertarungan sang satria.

Kepercayaan mengenai kekuatan magis kain itu lalu menghasilkan mitos sendiri. Keunikan kain Gringsing inilah, antara lain, yang menjadikan Tenganan Pegringsingan memiliki nama atau dikenal di dunia pariwisata. 

Berbagai upacara masuk ke dalam kalender budaya Tenganan. Sebutlah misalnya Usaba Kasa, Usaba Karo, Usaba Ketiga, Usaba Kapat, Usaba Sambah,dan seterusnya merupakan upacara tradisi yang hadir dalam wilayah ritual dan kesadaran akan industri pariwisata. Orang-orang Tenganan yang merantau biasanya pulang saat upacara ini.

Asal-usul Tanah Tenganan Pengringsingan

Tersebutlah Tanah Tenganan sebagai pemberian Dewa Indra. Kisahnya bermula dari kemenangan Dewa Indra atas peperangan dengan Raja Mayadenawa yang otoriter. Dunia, karena peperangan itu, dianggap kotor, karenanya dibutuhkan upacara penyucian dengan kurban seekor kuda. Terpilihkan Oncesrawa, kuda milik Dewa Indra sebagai bakal kurbannya.

Kuda yang dianggap sakti itu memiliki bulu putih dengan ekor warna hitam yang panjangnya sampai menyentuh tanah. Kuda yang diyakini muncul dari laut itu, melarikan diri ketika ia tahu bahwa dirinya akan dijadikan kurban. Dewa Indra kemudian menugaskan Wong Peneges, prajurit kerajaan Bedahulu, untuk mencari Oncesrawa
.
Orang-orang Paneges dibagi dalam dua kelompok, yaitu: Kelompok pertama mencari ke arah Barat dan kelompok kedua mencari ke arah Timur. Kelompok pertama tidak menemukan jejak kuda kurban, sedangkan kelompok kedua berhasil menemukan kuda tersebut dalam keadaan mati pada suatu tempat di lereng bukit, yang sekarang disebut bukit Kaja ‘bukit Utara’, Desa Tenganan Pegringsingan. Hal itu, segera diketahui oleh Dewa Indra. 

Selanjutnya, beliau bersabda untuk memberikan anugerah berupa tanah seluas bau bangkai tercium. Wong Peneges rupanya ‘cerdik’, mereka memotong-motong bangkai kuda itu dan membawanya sejauh yang mereka inginkan. Dewa Indra mengetahui hal itu, lalu turunlah Dewa 6 Indra sembari melambaikan tangan, sebagai tanda bahwa wilayah yang mereka inginkan sudah cukup. Wilayah itulah yang sekarang disebut sebagai Tenganan Pegringsingan. 


tenganan pengringsingan
perang pandan


TIPS DAN TATA CARA MENDAKI SEMERU

Semeru itu salah satu gunung impian para pendaki. Ada kebanggaan tersendiri ketika mereka berhasil menaklukkan gunung tertinggi di Pulau Jawa ini. Bila Anda baru pertama kali ke Semeru, yang harus dipersiapkan tentu saja fisik, logistik, waktu dan pengetahuan untuk mencapai ke sana. Seperti apa tips ke Gunung Semeru? 

rute pendakian semeru
foto: tempo.co
  • Agar pendakian lancar, datanglah pada musim kemarau antara Mei sampai September. Karena bila datang di musim penghujan Anda harus siap dengan kesulitan medan, angin yang tidak bersahabat, dan hujan badai yang datang sewaktu-waktu. 
  • Pastikan kondisi fisik Anda dalam keadaan prima. Riwayat penyakit seperti jantung tidak direkomendasikan. 
  • Sisihkan waktu 4 hari 3 malam. Kenapa 4 hari? Agar bisa menikmati keindahan Semeru. Sebetulnya waktu 3 hari sudah cukup. Tapi nggak bisa sesantai seandainya Anda menyisihkan waktu 4 hari. 
  • Jumlah pendaki Gunung Semeru dibatasi 500 orang per hari. Untuk itu siap-siap untuk bermalam menunggu giliran mendaki seandainya jumlah pendaki sudah memenuhi kuota dan kelompok Anda dalam antrean. Jadi, siap-siap saja untuk menginap di sekitar Desa Ranupani. Desa Ranupani, Senduro, Lumajang memang jadi titik start pendakian Gunung Semeru. 
  • Calon pendaki harus mengajukan izin pendakian. Persyaratan administratif harus dipenuhi. Jangan lupa bawa KTP dan surat keterangan sehat dari dokter karena pasti akan dicek di Pos Ranupani. 
sumber: infopendaki.com
  • Ada 3 cara untuk mengurus izin pendakian Semeru. Pertama:  Booking melalui Telepon / Fax melalui Kantor Balai Besar TNBTS nomor telepon (0341) 491828 / faksimil ke (0341) 490885. Layanan telepon hanya pada hari Senin - Jum'at (pukul 08.00 - 14.00 WIB) sedangkan layanan faksimil terbuka pada hari Senin - Minggu. Konfirmasikan juga kuota pada tanggal pendakian yang diinginkan masih ada atau tidak. Kirim data diri seluruh calon pengunjung (fotocopy KTP/SIM/Kartu Pelajar/Passpor yang masih berlaku termasuk data umur jenis kelamin pekerjaan dan nama ketua rombongan) waktu pendakian pintu masuk dan keluar pendakian serta bukti pembayaran surat ijin pendakian pendakian melalui faksimil. Kedua: Mendaftarkan diri langsung di kantor Kantor Seksi PTN Wilayah I di Cemorolawang Kantor Seksi PTN Wilayah II di Tumpang dan Kantor Seksi PTN Wilayah III di Senduro serta Resort PTN Wilayah Ranu Pani  pada hari Senin s/d Minggu pukul 08.00 s/d 16.00 WIB dengan menyelesaikan syarat pendakian. Ketiga: mendaftar online. Ini sangat mudah. Tinggal buka web bromotenggersemeru.org. Di web tersebut dijelaskan secara rinci cara mendaftar termasuk biaya yang harus ditransfer. Jangan lupa, untuk membooking lakukan paling cepat sebulan sebelum tanggal pelaksanaan pendakian dan paling lambat 7 hari sebelumnya (H-30 sampai dengan H-7. 


Keberangkatan ke Ranu Pani
Dari Probolinggo: Terminal Probolinggo - Sukapura - Desa Jemplang -  Desa Ranupani
Dari Pasuruan: Simpang Dengklik - Jalur sama seperi Probolinggo
Dari Kota Malang – Tumpang - Desa Jemplang - Desa Ranupani

Di Ranupani semua kelengkapan administrasi dicek.
Di Ranupani, di pintu gerbang Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Anda diwajibkan membayar karcis per orang Rp 10.000


Jalur Pendakian
Dua jalur untuk pendakian adalah jalur Ayak-Ayak dan jalur Watu Rejeng.

1. Jalur ayak-ayak merupakan jalur anti mainstream karena berdebu dan penuh batu. Jalur atau rutenya sbb: Ranupani – Gunung Ayak-Ayak – Panggonan Cilik – Ranu Kumbolo = (5jam)
Ranu Kumbolo – Oro-Oro Ombo = 1km (30 Menit)
Oro-Oro Ombo – Cemoro Kandang = 1,5km (30 Menit)
Cemoro Kandang – Jambangan = 3km (30 Menit)
Jambangan – Kalimati= 2km (30 Menit)
Kalimati – Arcopodo = 1,2km (2,5jam)
Arcopodo – Cemoro Tunggal – Puncak Semeru = 1,5km (3-4jam)

2. Jalur atau Rute Watu RejengIni cocok untuk pendaki pemula karena rutenya nggak terlalu sulit.
Jalur / Rute Pendakian:
Ranupani– Landengan Dowo = 3km (1,5jam)
Landengan Dowo – Watu Rejeng = 3km (1,5jam)
Watu Rejeng – Ranu Kumbolo = 4,5km (2jam)
Ranu Kumbolo – Oro-Oro Ombo = 1km (30 Menit)
Oro-Oro Ombo – Cemoro Kandang = 1,5km (30 Menit)
Cemoro Kandang – Jambangan = 3km (30 Menit)
Jambangan – Kalimati= 2km (30 Menit)
Kalimati – Arcopodo = 1,2km (2,5jam)
Arcopodo – Cemoro Tunggal – Puncak Semeru = 1,5km (3-4jam)

Hati-hati Zona Bank 75
Medan tersulit dalam pendakian Gunung Semeru adalah pinggiran jaluar dari Arcopodo menuju puncak. Lazim disebut Zona Blank 75 atau zona tengkorak. Kalau turun dari puncak, berhati-hatilah karena jalan menurun tajam. Pendaki yang tergesa-gesa bisa masuk dalam zona tengkorak tersebut. 

Perlengkapan Penting

Camping Gear (Tenda Doom, Matras, Sleeping Bag, Peralatan Masak)
Pakaian secukupnya
Jaket atau Sweater
Celana Panjang Secukupnya
Tutup kepala untuk bertahan dari hawa dingin
Kaos kaki tebal (bisa kaos kaki bola)
Sarung Tangan
Topi
Peralatan mandi
Peralatan ibadah
Jas Hujan
Sunblock
Obat-obatan termasuk koyo tempel yang bisa dipakai di telapak kaki dan tangan untuk menghangatkan diri ketika tidur.
Sepatu dan sandal trecking


Logistik Makanan dan Minuman
Utamakan membawa makanan siap saji seperti kornet, abon, nasi, makanan kaleng, dan peralatan masak dan makan di atas gunung. Pendeknya yang mudah dan kandungan energinya mudah diserap tubuh. Misalnya madu dan gula. 

Jumat, 30 Desember 2016

Kisah Kesada dan Nenek Moyang Suku Tengger Bromo

Melihat keelokan Gunung Bromo tanpa mengenal budaya dan agamanya terasa kurang lengkap. Postingan ini saya sarikan dari e-book Alpha Savitri yang berjudul Sejarah, Agama dan Tradisi Suku Tengger Gunung Bromo.  


wisata bromo
bromo tak hanya elok namun kaya legenda dan tradisi


Selain melihat keindahan alam Gunung Bromo, cobalah, kalau waktu Anda masih sangat luang, jalan-jalan di Desa-desa sekitarnya. Lihat penduduknya. Mereka umumnya berwajah relatif flat dengan mata yang agak sipit dan berkulit coklat. Mereka itulah Suku Tengger. Penduduk asli Bromo.

Pekerjaan mereka umumnya adalah bercocok tanam sayuran dan palawija. Lihatlah di lereng-lereng Bromo. Dengan rajinnya mereka mengolah tanahnya. Hawa dingin tak membuat mereka bermalas-malas untuk tidur. 

Ada banyak makna yang dikandung dari kata Tengger. Secara etimologis, Tengger berarti berdiri tegak, diam tanpa bergerak (Jawa). Bila dikaitkan dengan adat dan kepercayaan, arti tengger adalah tengering budi luhur. Artinya tanda bahwa warganya memiliki budi luhur. Makna lainnya adalah: daerah pegunungan. Tengger memang berada pada lereng pegunungan Tengger dan Semeru. Ada pula pengaitan tengger dengan mitos masyarakat tentang suami istri cikal bakal penghuni wilayah Tengger, yakni Rara Anteng dan Joko Seger.

Sejarah umum menyatakan orang Tengger sesungguhnya adalah pelarian dari Majapahit sewaktu Sultan Agung menguasai Mataram. Mereka memeluk agama perpaduan dari Hindu Budha, namun mereka mengidentifikasikan agama mereka sebagai agama Hindu. Hindu mereka berbeda dengan Hindu Bali karena mereka tidak menganut sistem kasta.  

Orang Tengger mengenal upacara ritual Kesada yang berlangsung pada hari ke-15 bulan terakhir (bulan kedua belas) menurut kalender tahunan Tengger. Pada tengah malam sampai dini hari ribuan orang Tengger berdoa di Pura Poten di lautan pasir di kaki Gunung Bromo.

Kalau kita datang saat Kesada, kita lihat 28 dukun duduk berdampingan di dasar gunung untuk berdoa pada penguasa gunung. Mereka mempersembahkan sesaji berupa hasil bumi, nasi, daging maupun uang. Mereka meriwayatkan kisah Joko Seger dan Rara Anteng yang diyakini sebagai nenek moyang. Selanjutnya warga Tengger naik ke bagian utara dari puncak gunung bromo ke arah kawah. Mereka melemparkan persembahan ke kawah.  

Hikayat Rara Anteng dan Jaka Seger
Alkisah, pada zaman dahulu, ada seorang putri Raja Brawijaya dengan Permaisuri Kerajaan Majapahit. Namanya Rara Anteng. Karena situasi kerajaan memburuk, Rara Anteng mencari tempat hidup yang lebih aman. Ia dan para punggawanya pergi ke Pegunungan Tengger. Di Desa Krajan, ia singgah satu windu, kemudian melanjutkan perjalanan ke Pananjakan. Ia menetap di Pananjakan dan mulai bercocok tanam. Rara Anteng kemudian diangkat anak oleh Resi Dadap, seorang pendeta yang bermukim di Pegunungan Bromo.

Sementara itu, Kediri juga kacau sebagai akibat situasi politik di Majapahit. Joko Seger, putra seorang brahmana, mengasingkan diri ke Desa Kedawung sambil mencari pamannya yang tinggal di dekat Gunung Bromo. Di desa ini, Joko Seger mendapatkan informasi adanya orang-orang Majapahit yang menetap di Pananjakan. Joko Seger pun melanjutkan perjalanannya sampai Pananjakan.

Joko Seger tersesat dan bertemu Rara Anteng yang segera mengajaknya ke kediamannya. Sesampai di kediamannya, Rara Anteng dituduh telah berbuat serong dengan Joko Seger oleh para pinisepuhnya. Joko Seger membela Rara Anteng dan menyatakan hal itu tidak benar, kemudian melamar gadis itu. Lamaran diterima. Resi Dadap Putih mengesahkan perkawinan mereka.

Sewindu sudah perkawinan itu namun tak juga mereka dikaruniai anak. Mereka bertapa 6 tahun dan setiap tahun berganti arah. Sang Hyang Widi Wasa menanggapi semedi mereka. Dari puncak Gunung Bromo keluar semburan cahaya yang kemudian menyusup ke dalam jiwa Rara Anteng dan Joko Seger. Ada pawisik mereka akan dikaruniai anak, namun anak terakhir harus dikorbankan di kawah Gunung Bromo.

Pasangan ini dikarunia 25 anak sesuai permohonan mereka, karena wilayah Tengger penduduknya sangat sedikit. Putra terakhir bernama R Kusuma.

Bertahun-tahun kemudian Gunung Bromo mengeluarkan semburan api sebagai tanda janji harus ditepati. Suami istri itu tak rela mengorbankan anak bungsu mereka. R Kusuma kemudian disembunyikan di sekitar Desa Ngadas. Namun semburan api itu sampai juga di Ngadas. R Kusuma lantas pergi ke kawah Gunung Bromo. Dari kawah terdengar suara R Kusuma supaya saudara-saudaranya hidup rukun. Ia rela berkorban sebagai wakil saudara-saudaranya dan masyarakat setempat. Ia berpesan, setiap tanggal 14 Kesada, minta upeti hasil bumi. Cerita lain menunjukkan saudara-saudara R Kusuma menjadi penjaga tempat-tempat lain. Kini upacara itu terkenal dengan nama Kesada.  

Asal-usul Pegunungan Tengger, Lautan Pasir dan Gunung Batok

Di wilayah pegunungan di Tengger, kita mengenal adanya Gunung Batok, lautan pasir, dan kawah Gunung Bromo yang terkenal. Ternyata mereka punya asal-usul dan sejarah dalam bentuk legenda.

Sebelum Rara Anteng dinikahi Jaka Seger, banyak pria yang naksir. Maklum, kecantikannya sangat alami sebagaimana Dewi. Di antara pelamarnya, terdapat Kyai Bima, penjahat sakti. Rara Anteng tidak bisa menolak begitu saja lamaran itu. Ia menerimanya dengan syarat, Kyai Bima membuatkan lautan di atas gunung dan selesai dalam waktu semalam.

Kyai Bima menyanggupi persyaratan tersebut dan bekerja keras menggali tanah untuk membuat lautan dengan menggunakan tempurung (batok) yang bekasnya sampai sekarang menjadi Gunung Bathok, dan lautan pasir (segara wedhi) terhampar luas di sekitar puncak Gunung Bromo. Untuk mengairi lautan pasir tersebut, dibuatnya sumur raksasa, yang bekasnya sekarang menjadi kawah Gunung Bromo.

Rara Anteng cemas melihat kesaktian dan kenekatan Kyai Bima. Ia segera mencari akal untuk menggagalkan minat Kyai Bima atas dirinya. Ia pun menumbuk jagung keras-keras seolah fajar telah menyingsing, padahal masih malam. 

Mendengar suara orang menumbuk jagung, ayam-ayam bangun dan berkokok. Begitu pula burung. Kyai Bima terkejut. Dikira fajar telah menyingsing. Pekerjaannya belum selesai. Kyai Bima lantas meninggalkan Bukit Pananjakan. Ia meninggalkan tanda-tanda:

  • Segara Wedhi, yakni hamparan pasir di bawah Gunung Bromo
  • Gunung Batok, yakni sebuah bukit yang terletak di selatan Gunung Bromo, berbentuk seperti tempurung yang ditengkurapkan.
  • Gundukan tanah yang tersebar di daerah Tengger, yaitu: Gunung Pundak-lembu, Gunung Ringgit, Gunung Lingga. Gunung Gendera, dan lain-lain. 

APA SAJA SPOT WISATA FAVORIT DI BROMO

Gunung Bromo itu sumber keelokan dan mata air inspirasi bagi siapa saja. Tidak saja bagi wisatawan, namun juga akademisi, peneliti, maupun seniman. Semakin tenar saja tempat piknik ini setelah film Pasir Berbisik yang dibintangi Dian Sastrowardoyo diperkenalkan. 


lokasi favorit bromo
keindahan gunung bromo sehabis erupsi

Sebenarnya Gunung Bromo (2.329 m dpl) hanya salah satu gunung yang terhampar di lautan pasir (Kaldera) yang sangat luas di Pegunungan Tengger. Lautan pasir tersebut seluas 5.920 hektar (sekitar 10 km persegi). Gunung-gunung lain yang juga terdapat di lautan pasir tersebut adalah Gunung Batok (2.440 m dpl), Gunung Widodaren (2.614 m dpl), Gunung Watangan (2601 m dpl), Gunung Kursi (2581 dpl).


Sampai sekarang Gunung Bromo merupakan gunung aktif. Asap putih tampak dari kawah atau kalderanya. Sungguh istimewa. Ada kawah di tengah kawah yang sangat cantik. Itulah Bromo. 

Oh ya, kalau merencanakan perjalanan ke Bromo, jangan lupa tanya, apakah Bromo aman untuk dikunjungi? Karena namanya gunung yang aktif, tentu statusnya kadang berubah dan wisatawan tidak direkomendasikan untuk datang ke sini. Atau, bisa jadi rekomendasinya, wisatawan bisa datang, sepanjang tidak mendekati kawah.

Sebenarnya apa saja nilai jual Bromo untuk wisatawan? Apa saja yang bisa kita lihat di Bromo? 


1. Sunrise Bromo


Sunrise atau matahari terbit yang dilihat dari kawasan Gunung Bromo yang sangat terkenal dan begitu memikat bisa dinikmati di lokasi yang namanya Puncak Pananjakan I. Namun, bila kita datang terlambat ke sini dan Puncak Pananjakan I sudah penuh orang, tentunya tidak mendapat tempat terbaik untuk melihat Sunrise. Ada Alternatif lain, yakni Puncak Pananjakan II. Lokasi lain yang belum begitu populer adalah Bukit Cinta. Dan ada pula Bukit Kingkong.

Lokasi Pananjakan I masih di bagian dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN-BTS) Jawa Timur. Sedangkan Pananjakan II ada di Desa Seruni Sukapura. Pananjakan II ini diresmikan untuk mengantisipasi membludaknya pengunjung Bromo, apalagi saat liburan dan even-even penting di Bromo. Bukit Cinta letaknya di antara Pananjakan I dan II, berjarak 5 km dari Puncak Penanjakan I. 


Bukit Kingkong berlokasi di antara Puncak Pananjakan I dan II, sejauh 2,5 km dari Puncak Pananjakan I. Bukit Kingkong ini lebih rendah dari Puncak Penanjakan I namun lebih tinggi dari Bukit Cinta.  


Untuk melihat Sunrise ini, umumnya wisatawan menyewa jeep atau hartop. Pukul 3 pagi start dari hotel untuk menuju lokasi sunrise. Medan untuk ke Pananjakan I cukup sulit. Tapi nggak usah khawatir karena pengemudi kendaraan sewaan kita sudah bepengalaman mengatasi medan sulit Bromo.


Menurut saya Pananjakan I masih lokasi yang paling elok untuk melihat matahari terbit. Di sini pula kita bisa melihat panorama Gunung Bromo, Gunung Batok, dan Gunung Semeru sekaligus. 


2. Kawah Bromo



Kawah Bromo menjadi daya tarik antara lain karena selalu mengeluarkan kepulan asap putih. Usai melihat sunrise yang indah, wisatawan biasanya melanjutkan perjalanannya menuju Kawah Bromo. Ini ditempuh dari tempat parkir jeep, lantas berjalan kaki sejauh 1,5 km buat sampai ke 250 anak tangga. Saat berjalan kita akan melewati Pura Suku Tengger yang biasanya dipakai untuk melaksanakan upacara Kesada atau Kesodo. Kalau ingin tahu lebih detail soal Sejarah Bromo, adat dan budayanya, lihat link ini

Dari Puncak Kawah Gunung Bromo wisatawan selain menyaksikan gunung Vulkanik yang masih aktif juga melihat lautan pasir Bromo. Dan, spesial, kita bisa menyaksikan Gunung Semeru yang berdiri kokoh. Semeru merupakan Gunung tertinggi di Jawa.


3. Bukit Teletubbies Bromo



wisata bukit teletubbies bromo

Setelah melihat lautan pasir, disarankan melihat pula Savana Bromo yang kini lazim disebut Bukit Teletubbies.  Berbagai wilayah Indonesia punya bukit teletubbiesnya masing-masing. Misalnya, Kabupaten Blitar pun punya Bukit Teletubbies yang elok. Lihat di sini.


Lokasinya di Selatan Gunung Bromo. Penampakan bukitnya mirip dengan yang ada di serial televisi Teletubbies.Bukit Teletubbies di sini dihasilkan dari perpaduan antara tanaman perdu pakis dan rumput-rumput. Tanah di sini berkontur sehingga bertumpuk satu dengan yang lain. 


Keistimewaan Bukit Teletubbies Bromo adalah memiliki latar belakang Gunung Bromo yang indah. Bila kita ada di bukit ini saat matahari terbit, warna bukitnya yang menghijau menjadi agak kekuningan karena pantulan sinar matahari yang kuning keemasan. . 


Bukit Teletubbies Bromo cocok untuk wisata keluarga. Kalau anak-anak ingin berguling-huling, lokasi ini cocok buat mereka. 

Lokasi: Desa Cemoro Lawang, Kec. Sukapura, Kab. Probolinggo, Jawa Timur.

Tips Mengunjungi Bukit Teletubbies:
  • Sinar matahari di padang rumput lekas sampai ke kulit tanpa penghalang. Bawalah pelindung kulit atau sunscreen dan topi. 
  • Bawa air minum karena beraktivitas di sini, entah jalan-jalan atau memotret akan lekas merasa haus. 
  • Jagalah kebersihan. Jangan tinggalkan satu sampah pun di sini.
  • Bawa masker (bila rute melewatilautan pasir bromo 
  • Kunjungan terbaik adalah musim kemarau karena di musim kemarau bunga warna-warni bermekaran dan cuaca yang baik akan sangat mendukung untuk melihat keindahan. 
4. Pasir Berbisik
Umumnya, wisatawan datang ke Pasir Berbisik setelah mengunjungi lokasi Sunrise Pananjakan, dilanjutkan melihat kawah Gunung Bromo, Bukit Savana yang sekarang terkenal dengan nama Bukit Teletubbies. 

Pasir yang terhampar terdengar seakan berbisik lembut bila diterpa angin. Latar belakang Gunung Bromo ataupun Gunung Batok dan yang lain akan membuat foto selfie atau wefie kita sedemikian indah dan artistik.


Asal-usul atau sejarah nama "Pasir Berbisik" berkaitan dengan syuting filmnya Garin Nugroho yang dibintangi Dian Sastrowardoyo. Memang, di lokasi ini, apalagi saat musim kemarau, deru angin yang menimpa pasir seolah berbisik lembut. 



rute bromo
keindahan gunung bromo tampak dari permadani pasir yang luas
Foto-foto: dokumentasi keluarga Bapak Yoyon

Kamis, 29 Desember 2016

SENARU, SURGA MASA LALU DAN AIR TERJUNNYA YANG KEREN

Desa Senaru di Lereng Gunung Rinjani menyimpan kekayaan masa lalu dan air terjun yang keren. Recomended banget untuk piknik, buat Anda yang ogah naik ke Rinjani yang begitu tinggi. 

Desa Senaru, Kecamatan Bayan, Lombok Utara merupakan gerbang pendakian ke Gunung Rinjani yang mainstream. Selain Senaru, ada dua desa lagi yang kerap dipakai pendaki untuk memulai start-nya, yakni Desa Sembalun dan Desa Torean. Terserah, pilih yang mana. 

Gerbang Senaru umum dipakai. Bahkan untuk upacara adat yang kerap dilaksanakan di Danau Segara Anak yang ada di ketinggian 2.700 kawasan Rinjani, gerbangnya ya lewat Senaru.  (baca asal-usul Gunung Rinjani, di sini)

Senaru sendiri tidak hanya dikenal di kalangan pendaki gunung. Seringkali traveller datang ke Senaru saja. Ke air terjun yang elok dan Desa Tradisional Suku Sasak yang rumah-rumah kunonya eksotik. 

1. Desa Tradisional Suku Sasak Senaru


obyek wisata senaru
rumah adat di desa senaru. semuanya seragam baik bentuk, luasan dan ruangan dalam. 


Desa tradisional ini merupakan sebuah wilayah khusus yang hanya ditempati warga suku Sasak asli. Maksudnya, warga yang tinggal di sini adalah yang masih dan tetap menjalankan adat istiadat mereka secara ketat. 

Di Desa tradisional Senaru, kita bisa melihat rumah-rumah adat Suku Sasak yang seragam, baik tampak luar maupun dalam. Beratap alang-alang dan berdinding bambu anyaman serta berlantai tanah, tanpa jendela sama sekali. Proses pembangunan rumah dilakukan secara gotong-royong tanpa memberi upah kepada yang membantu. 

Di sini kita bisa melihat sebuah kehidupan yang kontras dengan dunia modern yang kita tempati. Warga desa ini menganut ajaran Islam yang berpadu dengan adat istiadat setempat. Mereka ada yang menganut aliran Dina, ada pula yang menganut wetu telu. Aliran Dima akan bersembahyang menurut kemauan sendiri, sedangkan Wetu Telu beribadah hanya tiga kali sehari yakni subuh, dhuhur dan maghrib. 

Suku sasak di sini umumnya tidak mengakses sarana kesehatan di luar. Dalam hal kelahiran, pengobatan, kematian, diselenggarakan secara tradisional di dalam desa. Melokaq atau pemangku adat adalah pusat kehidupan. Ia tempat bertanya, mengadu. Pemangku juga mengobati orang sakit dan memutuskan segala persoalan. Pemangku menerima tamu sambil duduk makan sirih di atas sebuah balai-balai tanpa dinding yang disebut Berugaq. 

2. Air Terjun Sendang Gile dan Tiu Kelep


lokasi air terjun rinjani
air terjun di kaki gunung rinjani. 

Sendang Gile dan Tiu Kelep merupakan air terjun terkenal yang termasuk dalam jalur pendakian ke Gunung Rinjani. Letaknya di sebelah utara, di kaki Gunung Rinjani.

Kedua air terjun ini dipercaya penyembuh segala penyakit, baik penyakit badan maupun pikiran. Mandi di air kedua air terjun ini dipercaya pula panjang umur dan awet muda. 

Nama Tiu Kelep berasal dari Bahasa Sasak yang berarti kolam terbang. Sedangkan nama Sendang Gile berasal dari legenda tempat ini dimana ada pangeran bersembunyi dari kejaran singa gila.   

Sesungguhnya kedua air terjun ini mengalir dalam satu aliran. Sendang Gile terletak di bawah, Tiu Kelep di atas. Aliran air terjun Tiu Kelep deras mengalir ke Sendang Gile. Air terjun Sendang Gile mengalir melewati tebing bertingkat-tingkat setinggi 30 meter. Tebing yang bertingkat-tingkat tersebut tertutup dedaunan dan tumbuhan semacam pakis. Sehingga kalau kita melihatnya seakan ada tirai yang berasal dari kabut air, mengelilingi kehijauan tersebut. Kadangkala kalau beruntung, kita akan melihar pelangi di sekitar tirai air tersebut.

Air terjun Sendang Gile lebih banyak didatangi wisatawan karena lokasinya tidak jauh dari pintu gerbang wisata Senaru. Cuma 20 menitan berjalan, kita sudah sampai di lokasi air terjun yang elok ini. Di sepanjang jalur menuju Sendang Gile telah dibuat anak tangga sebanyak 500 buah untuk memudahkan wisatawan berjalan.

Bila ingin melanjutkan perjalanan ke air terjun Tiu Kelep, paling tidak kita harus berjalan kaki 45 menit melewati hutan-hutan di Taman Nasional Gunung Rinjani. Pemandangan begitu menakjubkan sehingga lelah perjalanan akan terbayar. Air terjun Tiu Kelep cukup deras aliran airnya. Bunyi deburannya membahana. Letaknya cukup tinggi yakni 45 meter.

Saya ilustrasikan sedikit jalanannya seperti apa. Jalan setapak di sini cukup lembab. Perjalanan akan melewati tangga curam juga. Anda juga harus melewati sungai dangkal dengan air yang bening. Cuci muka di sini terasa menyegarkan. 

Di wilayah Tiu Kelep kita masih bisa menyaksikan Lutung, kera yang berbadan hitam tampak berayun dari pohon ke pohon. Jangan khawatir, Lutung-lutung ini tidak akan mengganggu selama tidak Anda ganggu.

Warga setempat percaya bahwa kedua air terjun ini memiliki khasiat membikin orang-orang yang mandi di sini awet muda. Mau coba?

Kamis, 22 Desember 2016

AROSBAYA, EVOLUSI BUKIT KAPUR JADI CIAMIK

Madura ternyata gudangnya tempat wisata eksotik. Selain Bukit Kapur Jaddih, ada pula Bukit Kapur Arosbaya yang sedang ngetren di antara para traveller. 


wisata madura
bukit kapur eksotik di arosbaya madura



Bukit kapur di Bangkalan Madura ini namanya Arosbaya.  Cantik namanya seindah keelokan tampilannya. Arosbaya sendiri merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Bangkalan yang memiliki peninggalan penting, yakni Situs Aer Mata. Situs ini berhubungan dengan sejarah Madura. Dan di Arosbaya pula bukit-bukit kapur yang elok bermukim. Dulunya bukit ini biasa disebut Bukit Pelalangan.

Pada sisi mana keelokannya? Begini ya, pada tubuh bukit kapur ini terdapat sayatan-sayatan yang menyerupai gurat-gurat garis vertikal serupa relief. Sayatan-sayatan ini datang dari alat-alat para penambang kapur yang mengais rezeki di sini. Banyak ruang-ruang penambangan dibukit Arosbaya yang sudah ditinggalkan penambang. Dari waktu ke waktu ruang-ruang yang penuh sayatan ini dimakan usia. Warnanya tidak lagi seputih kapur. Namun ada yang kehijauan, kecoklatan, semu merah dan sebagainya akibat cuaca. Tumbuhan paku juga betah tinggal di beberapa bagian dari kapur-kapur tersebut. Di situlah keindahannya kawan. 

Jadi,warna kapur di Arosbaya ini semu kecoklatan. Lain dengan Bukit Jeddih yang warna kapurnya putih.

Bukit Kapur Arosbaya memiliki lorong-lorong yang kadang membingungkan. Untuk itu hati-hati bila memasuki lorong-lorong tersebut. Ingat baik-baik jalannya agar tidak tersesat. Lorong-lorong ini sebagian besar tidak terang. Untuk masuk ke lorong denga pencahayaan cukup sebaiknya dilakukan di siang hari. 

Hanya saja lokasi ini di Kota Bangkalan Madura yang cuacanya cenderung ekstrim panas jika siang hari. Kalau tidak ingin kepanasan, lakukan kunjungan saat pagi atau sore hari. 


Lokasi dan Rute ke Bukit Arosbaya

Bukit Kapur Arosbaya terletak di Desa Berbeluk, Kecamatan Arosbaya, Bangkalan, Madura. Rute untuk sampai ke sini sangat mudah karena letaknya berdekatan dengan situs wisata religi aer mata ibu yang sudah sangat terkenal. Tinggal parkir di lokasi wisata religi ini, lantas jalan kaki ke Bukit Kapur. Warga setempat menyebut Bukit Arosbaya dengan istilah "tambang bedel".

Artikel lain:
Wisata Bukit Jaddih lihat di sini

Bukit Jaddih, Sayatan Kapur Raksasa Berujung Eksotis

Di Bukit Jaddih, Bangkalan, Madura, entah sudah berapa dekade penambangan demi penambangan kapur terjadi. Entah sudah dibawa ke mana dan untuk apa saja kapur-kapur itu. Yang jelas, kini, bukit kapur itu diidolakan,dan jadi lokasi selfie kekinian yang banyak diburu traveller. 

wisata bukit jeddih madura
seperti ini suasana bukit jaddih saat siang yang cerah

Kalau sudah pernah ke sana, pastinya tahu, pahatan-pahatan gugusan kapur di Bukit Jaddih sungguh eksotis. Menimbulkan serat-serat, meliuk ke sana ke mari. Dulu tidak ada yang menyangka justru tampilan dari pahatan-pahatan penambang kapur itu nilai jualnya. Justru itu yang dicari traveller yang bosan dengan obyek-obyek wisata yang itu-itu saja. 

Bukit Jaddih seakan terbagi dua. Yang tandus dan yang kehijauan. Yang tandus ada di bawah dan yang kehijauan letaknya sebagian besar di atas bukit. Dari atas bukit ini kita bisa melihat pemandangan Pulau Madura. 

Yang membuat eksotika Bukit Jaddih semakin bertambah adalah sebuah tempat di sisi utara bukit yang bernama "Aeng Goweh Pote" (air gua putih). Ini pemandian alami di tengah kegersangan bukit kapur, Terbentuk dari lubang bekas galian kapur yang memancarkan mata air secara alami. Kini Aeng Gowe Pote menjadi kolam renang yang ditiketkan. Kalau ingin menikmati kesegaran airnya, cukup beli tiketRp 10.000. 

Kecamatan Socah, Desa Jaddih Kabupaten Bangkalan Madura-Jawa Timur, jauhnya 10 km dari pusat kota Bangkalan. Di situlah bukit-bukit kapur raksasa bermukim. Kalau Anda naik mobil, dari Jembatan Suramadu, ambillah arah ke Pusat Kota Bangkalan hingga sampai di pertigaan Desa Jaddih lantas arahkan mobil ke kanan. Tidak jauh dari situ Bukit Jaddih ditemukan. Bila naik motor, dari jembatan Suramadu bisa mengambil jalur alternatif lewat jalan Labang. 

Jalanan untuk mencapai Bukit Jaddih masih belum bagus. Dan hati-hati juga dengan truk pengangkut kapur yang lalu lalang. 

Tiket masuknya Rp 2000 dan tiket kendaraan Rp 5.000.

Saya pun kemudian jadi bertanya-tanya, ini berkah atau petaka? Atau ini petaka yang membawa berkah? Petaka yang saya maksud adalah, kerusakan alam yang ditimbulkan kelangkaan kapur. Berkahnya adalah implikasi ekonomi di sektor pariwisata. Benarkah pariwisata tambang, dimana pertambangan masih aktif, seperti di Bukit Jeddih ini implikasi ekonominya berkesinambungan? Apakah bisa disebut bahwa fenomena ini merupakan berkah ekonomi namun petaka ekologi? 

Tips ke Bukit Jaddih:
  • Sebaiknya datang pagi hari atau sore
  • Sebaiknya datang saat cuaca cerah (musim panas)
  • Kalau datang siang, pakailah topi,kacamata hitam dan sunblock untuk melindungi kulit dari sengatan matahari. 
  • Di Bukit Jaddih banyak lubang-lubang gua kecil yang ditimbulkan pahatan kapur. Sebaiknya jangan 
  • masuk karena dikhawatirkan longsor.  
WISATA LAIN DI BANGKALAN MADURA: 


wisata madura
bukit jaddih, wisata selfie kekinian
Foto-foto: dok. puspitasari


Rabu, 21 Desember 2016

Aturan Terbaru Mendaki Gunung Rinjani, Pangrango, Merapi (untuk Tahun 2017)

Bila Anda pendaki gunung, ini ada aturan baru tahun 2017 untuk pendakian di beberapa Gunung di Indonesia. Gunung mana saja dan apa saja? 


aturan mendaki semeru
pos pantai gunung merapi sebelum erupsi

Gunung Rinjani
Sebagaimana saya rangkum dari phinemo, Gunung Rinjani termasuk salah satu yang favorit di kalangan pendaki. Karena tidak semua pendaki memiliki habbit menjaga kebersihan Gunung Rinjani, beberapa titik di gunung ini penuh sampah berceceran.

Itu sebabnya, kini ada aturan yang diberlakukan sejak 1 April 2017 bahwa pendaki domestik maupun mancanegara harus membayar uang jaminan sebesar Rp 500 ribu sebelum mendaki. Uang tersebut bisa dikembalikan jika para pendaki turun dengan membawa sampah yang mereka hasilkan dari bungkus makanan yang mereka bawa baik ke Rinjani. 

Selain itu ada ketentuan lain. Taman Nasional Rinjani juga akan menutup jalur pendakian di tahun 2017. Penutupan jalur pendakian ini dilakukan di awal tahun 2017 yaitu bulan Januari, Februari, dan Maret, seperti yang dilakukan oleh pihak Balai Besar Taman Nasional Gunung Rinjani sejak 20 tahun ini.

Agus Budi Santosa, Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Rinjani mengatakan bahwa bulan-bulan tersebut cuaca sangatlah buruk, hujan, dan angin badai akan terus terjadi. Dengan jalur yang memiliki lebar tidak sampai satu meter yang dapat membahayakan pendaki. Penutupan ini masih menunggu surat keputusan dari BMKG.

Gunung Gede Pangrango
Untuk menjaga kebersihan di lingkungan Gunung Gede Pangrango, mulai April tahun 2017 para pendaki dilarang membawa botol air minum dalam kemasan sekali pakai dan tissue basah. 

Seperti halnya untuk Gunung Rinjani, Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango akan menutup jalur pendakian di akhir tahun. Mulai tanggal 31 Desember 2016 hingga 31 Maret 2017. Penutupan ini dilakukan untuk pemulihan ekosistem hutan di Taman Nasional Gede Pangrango.

Gunung Merapi
Larangan naik ke Puncak Merapi sebenarnya sudah dilarang ada sejak lama. Namun Balai Penelitian Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta, kembali menekankan hal ini karena kondisi tanah menuju Puncak Merapi tidak stabil. Surat resmi terkait penutupan puncak Merapi sendiri sudah diedarkan kepada Pemerintah Kabupaten Sleman, Magelang, Klaten, serta Boyolali dan sudah mulai diberlakukan.