Jumat, 27 Mei 2016

AMBOII, NYAMANNYA HOTEL KETAPANG INDAH

Saya akan tulis pengalaman saya dan keluarga saat menginap di Hotel Ketapang Indah, Ketapang, Banyuwangi. Ini bukan karena saya dapat sesuatu dari manajemen hotel itu. Tapi lebih karena saya lumayan puas saat santai dengan keluarga di sini.

ruang resepsionis hotel ketapang indah berciri banyuwangian
ketapang indah hotel
kamar-kamar di ketapang indah hotel
Wilayah Ketapang, Banyuwangi merupakan persinggahan kalau kita menuju Pulau Bali dari Jawa Timur lewat perjalanan laut. Banyak hotel dan resort di sekitar wilayah ini dengan harga variatif. Hotel Ketapang Indah, salah satunya.

Saya dan keluarga transit bermalam di sini dalam perjalanan menuju Gunung Ijen. Kami begitu menyukai hotel yang dibangun dengan gaya resort ini. Sebagian besar lahan adalah tempat yang nyaman bagi pohon-pohon palem dan tanaman-tanaman tropis lain untuk tumbuh.

Kamar hotelnya sendiri bergaya bungalow-bungalow indah. Yang menghadap taman bungalownya dua lantai dan yang menghadap laut satu lantai saja. Ada juga kolam renang nemawan di bawah pohon-pohon tinggi.

Kamar kami di lantai dua. Dari teras, kami bisa bebas memandang taman indah hotel ini. Juga kebahagiaan traveller seperti kami yang berjalan-jalan dan bersendagurau di taman. 

Tak sabar ingin mencicipi kebahagiaan di taman-taman, kami pun ke taman. 

Anak saya sangat menyukai suasana lapang dan indah yang ditawarkan hotel ini. Apalagi di sini ada area bermain buat anak-anak. Di areal tersebut terdapat ayunan dan sarana untuk memanjat.

Tidak cuma taman yang indah, kolam renangnya juga ciamik. Airnya yang biru sungguh mengundang siapa saja untuk berenang. 

Dari kolam renang inilah kami mendengar gemuruh ombak. Ternyata tak jauh dari kolam renang ini terdapat pantai. Dan kami baru tahu, ternyata hotel ini juga menyediakan bungalow yang menghadap ke pantai. 

Di pantai kami bermain di pasir coklat sampai matahari terbenam dan lampu-lampu temaram di lingkungan Hotel Ketapang Indah dinyalakan. Begitu artistik. Kapan lagi ya, bisa ke sini? Malam kami sudah harus ke Ijen. Baru ke hotel ini lagi lepas dari Ijen pagi hari sekitar pukul 8.00. Padahal kami juga ingin melihat matahari terbit dari dermaga di belakang Hotel Ketapang Indah. Kami juga ingin mancing di dermaga ini. Konon, cepat dapat ikannya. 




kamar nyaman dengan teras menghadap taman indah
dekat ruang reception
ruang santai di taman

Rabu, 18 Mei 2016

Gladak Perak, Sejarah Penting Lumajang yang Hampir Terlupakan

Lumajang, Jawa Timur memang seperti serpihan surga bocor ke dunia. Baru kebun salaknya saja sudah ngangeni. (Lihat kisah mbolangku di sebuah keluarga di Pronojiwo, kaki Gunung Merapi). Sebelum saya lupa, ini saya posting jembatan legendaris yang bernama Jembatan Gladak Perak yang suka saya lewati dalam perjalanan mbolang ke Malang lanjut Lumajang atau sebaliknya.

wisata lumajang
jembatan gladak perak, dekat piket nol lumajang
Inilah jembatan Gladak Perak yang saya maksud. Terletak di kawasan Piket Nol Lumajang. Siapa pun yang akan ke Lumajang dari arah Malang Selatan, atau sebaliknya, pasti melihatnya dari jembatan (baru) yang pasti kita lewati. Piket nol sendiri merupakan suatu tempat tertinggi di jalur selatan Jawa. Dari sini kita bisa melihat Semeru, pantai, dan lain-lain. Dulu di zaman Belanda, lajur ini diharapkan menjadi tempat pemeriksaan kendaraan. Karena posnya sering kosong, dinamai piket nol.

Dulu, sebelum dibangunnya jembatan kokoh yang baru, jembatan Gladak Perak inilah penghubung dua kota yakni Lumajang dan Malang, kalau kita mengambil jalur selatan. Karena jembatan Gladak Perak sudah tua dan besinya karatan, dibangunlah jembatan baru. Tapi kalau untuk jalan-jalan atau naik sepeda saja sih, jembatan lama ini masih aman.

Di ujung jalan jembatan baru, ada warung yang kopi tubruknya enak banget. Hawa sejuk Gunung Semeru, ditambah pemandangan indah di sekitar jembatan Gladak Perak, membuat kopi tubruk warung ini tambah sulit dilupakan. Saya pastinya mampir ke sini kalau lewat. Nggak ada rest area yang senyaman wilayah Gladak Perak.

Oke, cuma warung biasa di situ. Bukan restoran mewah. Tapi rasanya boookkkkk....

Yang mengasyikkan juga, pemandangannya keren. Bukit beserta pepohonannya adalah tempat monyet-monyet jinak yang kadangkala juga bertandang sampai ke jalan. Enaknya, wilayah ini sepi.

ujung jembatan baru di sekitar piket nol. dari sini kita bisa melihat jembatan gladak perak lama.

Jarang dilewati meski ini satu-satunya jalur selatan Malang-Lumajang. Mungkin karena jalanan curam dan berliku, orang lebih suka pakai jalur non selatan.

Sejarah / Asal Usul Gladak Perak

Gladak perak kini sendirian seakan terabaikan. Jarang ada yang tahu jembatan ini penting artinta, terutama di zaman dulu. Gladak Perak merupakan jembatan bersejarah. Dibangun pemerintah Belanda pada tahun 1925-1940. Bayangkan, 15 tahun bro. Tahun 1947 jembatan ini dihancurkan akibat pernyaiang. Tujuannya adalah agar pasukan Belanda tak meringsek dari Malang sampai Lumajang. Tahun 1952 jembatan ini dibangun kembali. Karena sudah tua, tahun 2001, pemerintah membangun jembatan baru di sebelah Tenggara jembatan lama.

Mengapa dinamakan Gladak Perak? Sejarah atau asal-usul Gladak Perak ada beberapa versi. Ada yang mengatakan, jembatan itu berawarna keperakan kalau ditimpa matahari, makanya dinamakan Gladak Perak. Namun ada yang menyatakan pembangunan jembatan itu memakan ongkos mahal sekali. Begitu banyak uang perak yang keluar demi membangun Jembatan Gladak Perak.

Legenda yang beredar di masyarakat menyatakan nama jembatan ini ada kaitannya dengan perhiasan perak milik seorang penari cantik di wilayah ini. Pembangunan memakan banyak korban dan sebagai tumbal dipakailah perhiasan perak tersebut.

Banyak yang bilang jembatan Gladak Perak angker karena dulu dipakai untuk tempat pembuangan mayat saat peristiwa G30S PKI. Entah benar entah tidak, namun lingkungan yang sepi di sini memang membuat bulu kuduk merinding.

Apa pun kisahnya,yang jelas Gladak Perak sangat asyik. Ya kopinya, ya pemandangannya. Setuju, kan?

Senin, 16 Mei 2016

Mbolang ke Desa Perawan di Pronojiwo, Kaki Gunung Semeru

Piknik nggak mesti pergi ke pantai-pantai populer ataupun naik gunung. yang penting pikiran bisa fresh dan berefleksi. Bahkan santai di rumah kawan di desa pun sudah merupakan piknik. Kali ini saya akan cerita pengalaman  3 hari menginap di sebuah desa di lereng Gunung Semeru. 


wisata lumajang
di kaki semeru dengan warga setempat
Kawan main saya di Surabaya, Ratih, suatu kali mengajak ke desanya. "Ayo Mbak, Kalibening itu adem. Letaknya di bawah Semeru. Nggak bakal menyesal," katanya berpromosi. "Tapi ke sana nggak usah pakai mobil atau kendaraan umum. Pakai motor lebih asyik," katanya. 

Karena promosinya sedemikian rupa, saya yang semula tidak tertarik jadi lumayan pengen. Lagipula, kaki ini rasanya kesemutan kalau lama nggak piknik. Hehehe. 

Saya dan Ratih berangkat berboncengan pagi-pagi sekali dari Waru, Sidoarjo menuju Malang, lanjut Malang Selatan, sampai ke Pronojiwo, Lumajang (perbatasan Malang dan Lumajang). Jarak kurang lebih 163 km, kami tempuh selama 5 jam lebih (umumnya 4,5 jam). Maklum, kami santai-santai saja menikmati perjalanan. Mampir juga ke warung sih.

wisata lumajang
masakan terasa lezat karena dimasak dengan kayu bakar 
Surabaya-Malang biasa saja kesannya. Sudah sering, mungkin. Tapi begitu masuk ke Malang Selatan, daerah Dampit, sampai ke Desa Ratih di Kalibening, Pronojiwo, Lumajang, luar biasa kerennya. 

Jalur selatan yang menghubungkan Malang dan Lumajang ini merupakan jalan nasional satu-satunya. Meski begitu, cukup sepi. Sesekali kami bertemu motor, mobil juga bus mini, sesekali pula truk. Motor kami naik turun bukit yang tak jarang menikung tajam. Kiri dan kanan kami, kalau nggak sawah, hutan, ya pohon-pohon lebat. Yang paling saya suka adalah seringkali mendengar burung tongiret atau gareng pong nyanyi di sekeliling kami. Karena ini musim hujan, kami lihat pula beberapa wilayah longsor, tapi tidak sampai ke jalan aspal.

wisata lumajang
tampak belakang rumah Ratih kawanku di kaki semeru yang perawan
Sekeliling Rumah Ratih berselimut kabut, siang itu. Tampak masih alami. Bangunanya setengah tembok setengah bambu. Keluarganya sangat welcome. Saya makan dan minum hidangan ala desa sepuasnya. Saya dipersilakan menempati kamar paling depan. Di rumah itu tinggal ayah, ibu, nenek, kakek, dan satu adik Ratih. Namanya Aji.

Namanya saja kaki gunung, apalagi Semeru. Biar siang, tetap dingin. Dari teras rumahnya aku menyaksikan bentang alam sedikit buram berselimut kabut. Namun kadang kabutnya menghilang dan jadi sangat rupawan. Sejauh mata memandang, jarang ada bangunan. Semuanya hijau. Dan nun jauh di sana, Gunung Semeru abu-abu tampak serdiri kokoh. Benar-benar dahsyat pemandangan dari rumah ini. 

air terjun pronojiwo
kolam renang alami dari mata air gunung semeru
Sebagai orang kota yang tidak memiliki desa, tentu saya sangat menikmati ketenangan yang ditawarkan wilayah di kaki Semeru ini.

Malam di Kalibening semakin membuat saya merasa sangat-sangat kecil dibandingkan semesta ini. Ahai.... serasa bermalam di padepokan yang menenangkan. Malam indahku berlalu ditemani dingin dan bunyi-bunyian binatang hutan.  


Mata Air di Pronojiwo

wisata desa lumajang kebun salak pondoh lumajang
jembatan bambu yang membelah kebun salak
Pagi-pagi Ratih membangunkan saya, mengajak mandi di mata air. Sebenarnya lebih enakan berselimut pagi itu. Tapi lagi-lagi Ratih promosi. "Letaknya tersembunyi di kebun salak kami. Nggak ada orang lewat. Mbak bisa berenang sepuasnya. Ada kolam alami di situ," katanya, semakin membuatku penasaran. 

Kami melewati kebun salak milik keluarganya. Jalanan curam ke bawah dan licin akibat hujan semalam. Ratih tertawa-tawa saja melihatku jalan pelan-pelan ke bawah, takut jatuh. 

Mata air yang dimaksud Ratih ternyata tidak hanya satu, namun beberapa. Ada yang langsung mengalir ke sungai, ada pula yang menyalur ke lekukan-lekukan alami. Di dalam kebeningannya, aku bisa menyaksikan ikan dan udang kecil berkeliaran di air. Airnya sangat dingin saat kucelupkan kakiku kali pertama. Tapi setelalah nyemplung, terasa hangat. Apalagi matahari mulai terbit. Di sana-sini cuma ada suaraku, suara ratih, bunyi air dan burung-burung.



pronojiwo
jembatan bambu di kebun salak

pronojiwo lumajang
ini kawanku ratih, mandi-mandi di mataair wilayah kebun salak

semeru pronojiwo
pancuran mini serupa air terjun di kebun salak. di belakangnya tersembunyi gua mini
kebun salak lereng semeru
di antara kebun salak, habis mandi. hehehe

Di Kebun Salak Keluarga Ratih, ada sebuah gubuk tempat istirahat. Sederhana penampilannya. Pemandangan yang terlihat bila kita sampai di gubuk ini sangat elok.


pronojiwo lumajang wisata lumajang
depan gubug kebun salak keluarga Ratih

wisata lumajang semeru
tempat yang oke untuk menghirup udara segar
wisata agro lumajang
kebun salak keluarga ratih

PISANG AGUNG

Lingkungan Pronojiwo, Lumajang tak hanya kaya salak, namun juga pisang agun, pisang yang bentuknya lebih panjang daripada pisang pada umumnya. Rasanya sangat enak, apalagi kalau dikukus bersama kulitnya. Satu buah pisang agung yang dikukus biasanya terlebih dulu dipotong-potong menjadi tiga sampai lima bagian.

Pisang Agung menjadi santapan yang enak pada udara dingin seperti lereng Merapi. Karena ngerti saya doyan pisang agung, kakek dan nenek Ratih selalu memberi bekal buah ini kalau saya pulang. Sebuah kebaikan luar biasa yang belum tentu saya bisa membalasnya.

Suatu ketika saya bahkan diberi bibit pisang agung untuk ditanam di rumah Sidoarjo. Sebetulnya saya nggak yakin bisa tumbuh karena beda cuaca. Ternyata kok ya tumbuh subur dan berbuah. Dari satu induk tanaman pisang agung saya beranak-pinak. Buahnya lezat sekali. 

wisata lumajang
bekal pisang agung dari nenek dan kakek ratih. kebaikan yang tak terlupakan

taman aloha sidoarjo
panen pisang agung bibit pronojiwo di rumah saya, sidoarjo


Minggu, 15 Mei 2016

PUHSARANG: GEREJA BATU KUNO, GUA MARIA LAMA, MAKAM ROMO EMILIO, KESEDERHANAAN YANG MAK NYES


Di mana langit dipijak, bumilah yang harus dijunjung. Mungkin itu ungkapan paling tepat saat melihat kompleks gereja kuno Puh Sarang yang mengedepankan lokalitas. Tiba di sini seakan sayadibawa ke masa lalu, zaman Mojopahit. Atap bangunannya menyerupai perahu. Bahan-bahannya kebanyakan batuan kali yang abu-abu kecoklatan itu. Elok dan terasa adem.

puhsarang
kompleks gereja kuno santa maria puhsarang
Di postingan sebelumnya telah saya upload hal yang berkait kemegahan Gua Maria Lourdes Puhsarang berikut beberapa spot yang menarik perhatian saya (lihat link ini). Saya juga telah uploadkan pengalaman saya melihat dari dekat ritual malam Jumat Legi di Puhsarang. (lihat link ini).

Kali ini saya lanjutkan cerita saya tentang kompleks Gereja Tua Santa Maria yang juga ada di Puh Sarang. Jalan-jalan pagi, saya akhirnya tiba di kompleks gereja tua Puh Sarang. Gereja ini dibangun dari batu-batu gunung warna abu-abu kecoklatan yang disusun artistik.

Gereja ini ada sejak tahun 1936. Sampai sekarang bangunannya ya tetap seperti aslinya. Memang ada renovasi, namun bentuk bangunan tetap dipertahankan. Pembangunan diprakarsai Romo Jan Wolters CM dan diarsiteki Henry Maclaine Pont. Pikiran-pikiran romo yang sangat menghormati tradisi setempat tersebut dituangkan secara arsitektural oleh Maclaine Port.

Dominasi batu-batu di bangunan lama gereja Puhsarang karena penggagasnya dulu ingin menyajikan citarasa lokal dalam bangunan gereja ini. Puhsarang letaknya di kaki Gunung Wilis merupakan wilayah penghasil batu-batuan gunung. Dulu, penghasilan utama penduduk Puhsarang adalah bertani dan mengambil batu-batuan. Tentu saja lebih baik memakai bahan-bahan yang ada di sekitar daripada mendatangkan dari tempat lain, bukan?


gereja santa maria puhsarang 1936
gereja kuno santa maria puhsarang diresmikan tahun 1936



gereja kuno puhsarang
prasasti gereja santa maria puhsarang

Altar Gereja Puh Sarang
Pagi setelah ritual malam Jumat, gereja tua nan artistik Santa Maria Puh Sarang dalam keadaan terkunci. Namun aku bisa leluasa memotret dari luar dari balik pintu kerangka-kerangka besi yang menyokong bangunan tersebut. Menurut umat Katolik setempat, penyokong atap tersebut dulunya dari bambu namun kini diganti besi biar lebih kokoh. Altar yang saya lihat terbuat dari batu. Terdapat relief-relief di altar kuno itu.  

gereja kuno puhsarang
altar gereja santa maria puhsarang dibuat dari batuan-batuan kokoh.

Atap Gereja Tua Puh Sarang
Puhsarang didesain seperti prahu yang menempel pada bangunan mirip gunung. Melambangkan perahu Nabi Nuh yang terdampar di Gunung Arafat. Lihatlah atapnya yang unik. Di tengahnya terdapat ornamen salib berwarna emas.


gereja kuno puhsarang
atap unik gereja puh sarang dulu disangga Bambu

Lonceng Gereja Kuno Puh Sarang

Menara lonceng ini cukup unik, berada di tengah batu alam yang ditata apik dalam bentuk langsing vertikal. Pembuatannya sebagai penghormatan pada santu pelindung arsitek, Santo Henricus. Di pucuk menara terdapat relief ayam jantan sebagai penanda arah. 

puhsarang kediri
arsitektur lonceng gereja puh sarang dari batu
puhsarang kediri
lonceng gereja kuno puh sarang

Gedung Serbaguna Emaus Puhsarang

Gedung ini struktur dan arsitekturnya menyerupai Gereja Santa Maria. Ada gunungan dan perahu. Atapnya dibuat dari baja tanpa usuk dan reng kayu. Bentuk gentinya unik. Gedung ini dibuat terbuka tanpa tembok. 

emaus puh sarang
atap gedung emaus puhsarang
emaus puhsarang
atap emaus puhsarang

Gua Maria Kecil Puh Sarang
Puhsarang memiliki tiga Gua Maria. Selain Gua Maria Laurdez setinggi 4 meter, ada dua gua Maria kecil lagi. pertama, gua Maria di sebelah kiri gereja tua, satunya lagi di dekat Gedung Serbaguna Emaus. Gua Maria di dekat gereja tua Santa Maria pintu masuknya berbentu segitiga. 

Untuk Gua Maria segitiga, saat saya berkunjung, dua orang bermeditasi. Setelah meditasi, salah satunya membersihkan lelehan lilin para peziarah yang datang pada malam Jumat legi.   

Keunikan Gua Maria Segitiga ini juga karena Maria dilukiskan memakai pakaian ala Jawa. Rambutnya terurai tanpa kerudung. Patung Maria dilingkari tulisan berbahasa Jawa dari pelat kekuningan: "Ibue Maria Ingkang Pinoerba Tanpa Dosa Asal, Moegi Mangestonana Kawoela Ingkang Ngoengsi Ing Panjenengan Dalem" (Bunda Maria yang Terkandung Tanpa Dosa Asal, Semoga Berkenan Merestui Aku yang Datang Berlindung Kepada Engkau). 

Menurut salah satu peziarah, Gua Maria ini didatangi banyak orang untuk bermeditasi, tak cuma dari kalangan Katolik. Terutama, mereka sreg karena menawarkan lokalitas.

gereja puhsarang
gua maria di sebelah gereja tua
gereja puhsarang
bunda maria tampil dengan baju ala jawa dan rambut digerai, dilingkari tulisan berbahasa Jawa

Kalau yang di bawah ini merupakan Gua Maria kecil yang terdapat di dekat Gedung Serbaguna Emaus, dibangun tahun 1986. Menurut keterangan penduduk setempat, gua ini dibangun oleh Romo Emilio Rossi CM, pastur yang sangat dekat dengan rakyat. 

gua maria puhsarang
gua maria di samping gereja tua puhsarang

Makam Romo Emilio Rossi, CM di Puh Sarang

Romo Emilio Rossi, CM merupakan pemimpin umat Katolik yang meninggal pada Maret 1999 merupakan pemimpin yang merakyat. Wasiatnya intinya adalah ingin dimakamkan di tengah-tengah umatnya. Jadi, kendati di Puhsarang tersedia Maosoleum (makam) romo-romo, namun Romo Emilio Rossi, CM tetap dimakamkan di tengah-tengah umatnya seperti wasiatnya. 

puhsarang makam romo emilio rossi
makam romo emilio rossi

puhsarang makam romo emilio rossi
makam romo emilio rossi
makam katolik puhsarang
kompleks pekuburan umat Katolik di Puhsarang
makam katolik puhsarang
kompleks pekuburan umat katolik puh sarang, di mana romo emilio rossi juga dimakamkan di tengah umat sesuai wasiatnya





Sabtu, 14 Mei 2016

Jalan Pagi di Puh Sarang, Usai Malam Jumat Legi

Setelah bermalam di Puh Sarang menyaksikan prosesi yang digelar rutin Malam Jumat di Gua Maria (LIHAT LINK INI), pagi-pagi sekali aku jalan-jalan di lingkungan spot wisata spiritual ini. Hawa pagi yang sejuk membuat semangatku bangkit mencari tahu dan mengambil foto-foto seperlunya.

Jumat, 13 Mei 2016

MALAM JUMAT LEGI DI PUH SARANG, SEPERTI INI SUASANANYA

Puh Sarang, Kediri, tempat berdiamnya kompleks bangunan megah umat Katholik, Bila Anda penggemar wisata sejarah dan spiritual, datang saja. Gua Maria Lordes, Puh Sarang dengan terbuka menyambut Anda. Dan pada hari tertentu seperti Jumat Legi, ribuan orang mengikuti prosesi yang kental dengan adat setempat. Pusatnya di Gua Maria Puh Sarang.

puh sarang jumat legi
prosesi umat katolik pada jumat legi di puh sarang
puh sarang jumat legi
peziarah juga membawa air untuk kemudian dibawa pulang kembali

puh sarang jumat legi
salah satu bagian prosesi malam jumat legi di puh sarang 
Puh Sarang cuma 15 menit ditempuh dari pusat kota Kediri (6 km) ke arah tenggara. Banyak papan petunjuk untuk sampai ke sini.

Pembangunan Puh Sarang di atas tanah seluas 6 hektare diilhami kemegahan Gua Maria di Lourdes Prancis. Puh Sarang diresmikan tahun 2000. Kenapa dibangun, agar umat Katolik tidak perlu jauh-jauh ke Lourdes untuk berziarah.

Saya sampai di sini diajak seorang kawan. "Ayo Mbak, besok kan  Jumat Legi. Di Puh Sarang selalu ada ritual. Nginap ya, di sini ada penginapannya," katanya. Singkat kata, pada Kamis Kliwon tersebut kami tiba di lokasi jelang Maghrib. 

Ritual tirakatan di Puh Sarang ruti digelar pada Jumat Legi dimulai tepat dini hari. Itu sebabnya pada hari Kamis Kliwon, sehari sebelum Jumat Legi, suasana di sekitar tempat wisata rohani ini selalu ramai. Bahkan sampai ribuan orang berdatangan. Tak cuma umat Katolik saja yang datang. Non Katolik penggemar wisata rohani juga banyak.

Gereja ini memang banyak melakukan ritual dengan menyerap budaya lokal. Inkulturasi dipakai di sini. Prosesi-prosesi yang dimulai pada pukul 00.00 WIB pada Jumat Legi ini juga memakai sarana gamelan. Lagu-lagu pujian berbahasa Jawa pun dilantunkan. Misa selesai sekitar pukul 02.00 dini hari.

Prosesi Jumat Legi ini semakin menegaskan bahwa gereja ini dengan tangan terbuka menyambut apa yang namanya inkluturasi. Penyerapan budaya lokal.

puh sarang jumat legi
gamelan pengiring tirakatan jumat legi di puh sarang
puh sarang jumat legi
salah satu prosesi malam jumat legi di puh sarang
puh sarang jumat legi
ritual jumat kliwon. lantunkan lagu-lagu pujian
puh sarang jumat legi
salah satu kios penjualan suvenir dan keperluan peziarah

LIHAT PULA POSTINGAN PUH SARANG LAIN:
LINK INI TENTANG GEREJA KUNO, MAKAM, GUA MARIA KUNO PUH SARANG
LINK INI TENTANG GUA MARIA LOURDEZ, MATA AIR PEZIARAH, JALAN SALIB, MAOSOLEUM


SEJARAH KAMPUNG KEMASAN GRESIK

Di Blog ini saya tuliskan juga pengalaman saya datang ke obyek wisata sejarah di Gresik yakni Kampung Kemasan (LIHAT DI LINK INI), yang penuh bangunan tua dan eksotik. Sesungguhnya pemilik bangunan-bangunan tua tersebut masih satu keluarga. 

arsip keluarga kemasan gresik
arsip sejarah kampung kemasan gresik
saya beruntung di kampung ini bertemu dengan tokoh kampung Kemasan yang juga peminat masalah budaya, yakni Oemar Zainuddin. Pak Oemar yang berprofesi sebagai pendidik.Cita-citanya antara lain ingin merevitalisasi kejayaan Kampung Kemasan Gresik, kampung yang dicintainya. 

Oemar terus mengumpulkan bukti kesejarahan kampung tersebut lewat aarsip kuno keluarganya. Ternyata arsip tersebut tidak cuma cerita Kampung Kemasan Gresik, namun juga  secara luas juga Kota Gresik.  Dari arsip itulah, kita tahu bagaimana perkembangan Kota Gresik di masa kolonial Belanda. Kita juga tahu, ternyata pribumi Gresik sangat tangguh saat itu.

Saat bertandang ke rumah Oemar, saya juga memotret arsip berharga tersebut. 

Oemar Zainuddin telah menulisnya di buku: Kota Gresik 1896-1916, Sejarah Sosial, Budaya, dan Ekonomi. Buku tersebut diterbitkan penerbit Ruas, Depok, tahun 2010. Oemar Zainuddin bercerita Gresik pergantian abad ke-20 tersebut, bertolak dari arsip-arsip kuno, sepanjang tahun 1896-1916.
Arsip-arsip itu membahas  “Keluarga Kemasan”, dalam kaitannya dengan perkembangan ekonomi, sosial dan budaya Kota Gresik masa itu. 

oemar zainuddin kemasan gresik
oemar zainuddin, pegiat budaya di Gresik
Arsip berupa surat-surat niaga, laporan keuangan, foto-foto, dan formulir pajak. Tidak hanya ditulis dalam huruf latin berbahasa Indonesia, namun juga beberapa ditulis dalam bahasa Arab Pegon. Ada pula formulir berhuruf Jawa. Sebagai pelengkap, wawancara dengan sumber terkait juga dilakukan penulis. Tak lupa data-data sekunder dari berbagai buku dan penelitian tentang Gresik juga disertakan. 

Oemar Zainuddin merupakan Generasi keempat dari H. Oemar Akhmad, saudagar yang memiliki usaha sarang burung wallet dan  toko kulit  yang kemudian jadi cikal bakal industri kulit di Gresik. H. Oemar Akhmad memiliki lima putra yang kemudian mewarisi bisnisnya di bidang perkulitan, yakni Asnar, H. Djaelan, H. Achmad Djaenoeddin, H. Moeksin, dan H. Abdul Gaffar. Penulis buku ini yakni Oemar Zainuddin merupakan cucu H. Achmad Djaenoeddin, putra ketiga.

Ketenaran keluarga ini sampai ke luar Gresik bahkan Batavia, antara lain bisa dibuktikan dari arsip-arsip surat pos yang datang dari berbagai kota di Indonesia yang rata-rata hanya mencantumkan nama salah satu dari lima bersaudara tersebut tanpa alamat, kecuali pencantuman Kota Grissee, namun selalu sampai. 

Kejayaan keluarga ini juga masih bisa dilihat kini dari rumah-rumah megah campuran gaya Kolonial dan Cina di Kampung Kemasan Gresik, yang usianya lebih dari satu abad. Rumah-rumah tersebut dibangun dengan tukang pilihan yang berasal dari, imigran dari Cina yang sangat ahli membuat bangunan. Meski bangunan di Kampung Kemasan Gresik tidak sedikit yang juga megah, namun dominasipilar-pilar  Eropa, warna merah, dan ornamen Cina merupakan ciri khas bangunan milik keluarga ini.    

rumah kemasan gresik
buku sejarah kemasan
Semula, H. Oemar Akhmad, ayah lima bersaudara tersebut, sekalipun sukses berdagang kulit, namun ia belum punya pabrik kulit. Karena usia, ia mengundurkan diri dari dunia bisnis tahun 1896. Sebuah pabrik penyamakan kulit, yakni Pabrik Kulit Kemasan dibangun lima bersaudara anak H. Oemar Akhmad selang dua tahunan berkiprah meneruskan usaha sang ayah. Modalnya, selain dari keuntungan toko kulit, juga dari hasil usaha wallet yang juga dirintis H. Oemar Akhmad.

Pabrik Kulit Kamasan sangat jaya. Kliennya bahkan dari Jepang. Bahkan Raja Solo juga menjadi klien fanatik perusahaan kulit ini, dalam salah satu arsip foto yang disertakan dalam buku, mengunjungi rumah Haji Djaelan dan berfoto bersama Keluarga Kemasan.    

Kesuksesan lima bersaudara ini di samping menjadi kebanggaan bagi warga Kota Gresik, juga berpengaruh luas pada kondisi ekonomi, sosial, dan budaya Kota Gresik pada umumnya. Memberikan kewirausahaan masyarakat lokal. Perajin-perajin kulit bermunculan di sekitar Gresik karena pasokan kulit yang telah disamak melimpah. Kerajinan kulit dari Gresik sangat terkenal, di samping karena desainnya memikat, juga karena bahan kulit dari Gresik memiliki kualitas baik. Tidak hanya itu, keluarga ini juga berkontribusi memberikan semacam kredit bagi pengusaha-pengusaha yang menjadi klien-kliennya.


Tidak hanya di bidang ekonomi keluarga ini berkontribusi bagi Gresik. Dalam bidang kebudayaan, keluarga ini berkiprah menggali dan melestarikan seni tradisional dengan mendukung even-even budaya masa itu. Dalam bidang pendidikan keluarga ini mendirikan kursus setingkat sekolah rakyat untuk anak-anak boemiputra secara gratis. Waktu itu, memang, sekolah Belanda (HIS) hanya menerima murid anak-anak orang Belanda, Cina, dan Bangsawan Kaya. Pelajaran yang ditekankan dalam sekolah gratis ini adalah membaca, menulis, berhitung dan membuat jajanan. Setelah menamatkan sekolahnya, diharapkan lulusan bisa mandiri mempraktikkan apa yang diajarkan di sekolah.