Senin, 16 Mei 2016

Mbolang ke Desa Perawan di Pronojiwo, Kaki Gunung Semeru

Piknik nggak mesti pergi ke pantai-pantai populer ataupun naik gunung. yang penting pikiran bisa fresh dan berefleksi. Bahkan santai di rumah kawan di desa pun sudah merupakan piknik. Kali ini saya akan cerita pengalaman  3 hari menginap di sebuah desa di lereng Gunung Semeru. 


wisata lumajang
di kaki semeru dengan warga setempat
Kawan main saya di Surabaya, Ratih, suatu kali mengajak ke desanya. "Ayo Mbak, Kalibening itu adem. Letaknya di bawah Semeru. Nggak bakal menyesal," katanya berpromosi. "Tapi ke sana nggak usah pakai mobil atau kendaraan umum. Pakai motor lebih asyik," katanya. 

Karena promosinya sedemikian rupa, saya yang semula tidak tertarik jadi lumayan pengen. Lagipula, kaki ini rasanya kesemutan kalau lama nggak piknik. Hehehe. 

Saya dan Ratih berangkat berboncengan pagi-pagi sekali dari Waru, Sidoarjo menuju Malang, lanjut Malang Selatan, sampai ke Pronojiwo, Lumajang (perbatasan Malang dan Lumajang). Jarak kurang lebih 163 km, kami tempuh selama 5 jam lebih (umumnya 4,5 jam). Maklum, kami santai-santai saja menikmati perjalanan. Mampir juga ke warung sih.

wisata lumajang
masakan terasa lezat karena dimasak dengan kayu bakar 
Surabaya-Malang biasa saja kesannya. Sudah sering, mungkin. Tapi begitu masuk ke Malang Selatan, daerah Dampit, sampai ke Desa Ratih di Kalibening, Pronojiwo, Lumajang, luar biasa kerennya. 

Jalur selatan yang menghubungkan Malang dan Lumajang ini merupakan jalan nasional satu-satunya. Meski begitu, cukup sepi. Sesekali kami bertemu motor, mobil juga bus mini, sesekali pula truk. Motor kami naik turun bukit yang tak jarang menikung tajam. Kiri dan kanan kami, kalau nggak sawah, hutan, ya pohon-pohon lebat. Yang paling saya suka adalah seringkali mendengar burung tongiret atau gareng pong nyanyi di sekeliling kami. Karena ini musim hujan, kami lihat pula beberapa wilayah longsor, tapi tidak sampai ke jalan aspal.

wisata lumajang
tampak belakang rumah Ratih kawanku di kaki semeru yang perawan
Sekeliling Rumah Ratih berselimut kabut, siang itu. Tampak masih alami. Bangunanya setengah tembok setengah bambu. Keluarganya sangat welcome. Saya makan dan minum hidangan ala desa sepuasnya. Saya dipersilakan menempati kamar paling depan. Di rumah itu tinggal ayah, ibu, nenek, kakek, dan satu adik Ratih. Namanya Aji.

Namanya saja kaki gunung, apalagi Semeru. Biar siang, tetap dingin. Dari teras rumahnya aku menyaksikan bentang alam sedikit buram berselimut kabut. Namun kadang kabutnya menghilang dan jadi sangat rupawan. Sejauh mata memandang, jarang ada bangunan. Semuanya hijau. Dan nun jauh di sana, Gunung Semeru abu-abu tampak serdiri kokoh. Benar-benar dahsyat pemandangan dari rumah ini. 

air terjun pronojiwo
kolam renang alami dari mata air gunung semeru
Sebagai orang kota yang tidak memiliki desa, tentu saya sangat menikmati ketenangan yang ditawarkan wilayah di kaki Semeru ini.

Malam di Kalibening semakin membuat saya merasa sangat-sangat kecil dibandingkan semesta ini. Ahai.... serasa bermalam di padepokan yang menenangkan. Malam indahku berlalu ditemani dingin dan bunyi-bunyian binatang hutan.  


Mata Air di Pronojiwo

wisata desa lumajang kebun salak pondoh lumajang
jembatan bambu yang membelah kebun salak
Pagi-pagi Ratih membangunkan saya, mengajak mandi di mata air. Sebenarnya lebih enakan berselimut pagi itu. Tapi lagi-lagi Ratih promosi. "Letaknya tersembunyi di kebun salak kami. Nggak ada orang lewat. Mbak bisa berenang sepuasnya. Ada kolam alami di situ," katanya, semakin membuatku penasaran. 

Kami melewati kebun salak milik keluarganya. Jalanan curam ke bawah dan licin akibat hujan semalam. Ratih tertawa-tawa saja melihatku jalan pelan-pelan ke bawah, takut jatuh. 

Mata air yang dimaksud Ratih ternyata tidak hanya satu, namun beberapa. Ada yang langsung mengalir ke sungai, ada pula yang menyalur ke lekukan-lekukan alami. Di dalam kebeningannya, aku bisa menyaksikan ikan dan udang kecil berkeliaran di air. Airnya sangat dingin saat kucelupkan kakiku kali pertama. Tapi setelalah nyemplung, terasa hangat. Apalagi matahari mulai terbit. Di sana-sini cuma ada suaraku, suara ratih, bunyi air dan burung-burung.



pronojiwo
jembatan bambu di kebun salak

pronojiwo lumajang
ini kawanku ratih, mandi-mandi di mataair wilayah kebun salak

semeru pronojiwo
pancuran mini serupa air terjun di kebun salak. di belakangnya tersembunyi gua mini
kebun salak lereng semeru
di antara kebun salak, habis mandi. hehehe

Di Kebun Salak Keluarga Ratih, ada sebuah gubuk tempat istirahat. Sederhana penampilannya. Pemandangan yang terlihat bila kita sampai di gubuk ini sangat elok.


pronojiwo lumajang wisata lumajang
depan gubug kebun salak keluarga Ratih

wisata lumajang semeru
tempat yang oke untuk menghirup udara segar
wisata agro lumajang
kebun salak keluarga ratih

PISANG AGUNG

Lingkungan Pronojiwo, Lumajang tak hanya kaya salak, namun juga pisang agun, pisang yang bentuknya lebih panjang daripada pisang pada umumnya. Rasanya sangat enak, apalagi kalau dikukus bersama kulitnya. Satu buah pisang agung yang dikukus biasanya terlebih dulu dipotong-potong menjadi tiga sampai lima bagian.

Pisang Agung menjadi santapan yang enak pada udara dingin seperti lereng Merapi. Karena ngerti saya doyan pisang agung, kakek dan nenek Ratih selalu memberi bekal buah ini kalau saya pulang. Sebuah kebaikan luar biasa yang belum tentu saya bisa membalasnya.

Suatu ketika saya bahkan diberi bibit pisang agung untuk ditanam di rumah Sidoarjo. Sebetulnya saya nggak yakin bisa tumbuh karena beda cuaca. Ternyata kok ya tumbuh subur dan berbuah. Dari satu induk tanaman pisang agung saya beranak-pinak. Buahnya lezat sekali. 

wisata lumajang
bekal pisang agung dari nenek dan kakek ratih. kebaikan yang tak terlupakan

taman aloha sidoarjo
panen pisang agung bibit pronojiwo di rumah saya, sidoarjo


1 komentar: