Minggu, 15 Mei 2016

PUHSARANG: GEREJA BATU KUNO, GUA MARIA LAMA, MAKAM ROMO EMILIO, KESEDERHANAAN YANG MAK NYES


Di mana langit dipijak, bumilah yang harus dijunjung. Mungkin itu ungkapan paling tepat saat melihat kompleks gereja kuno Puh Sarang yang mengedepankan lokalitas. Tiba di sini seakan sayadibawa ke masa lalu, zaman Mojopahit. Atap bangunannya menyerupai perahu. Bahan-bahannya kebanyakan batuan kali yang abu-abu kecoklatan itu. Elok dan terasa adem.

puhsarang
kompleks gereja kuno santa maria puhsarang
Di postingan sebelumnya telah saya upload hal yang berkait kemegahan Gua Maria Lourdes Puhsarang berikut beberapa spot yang menarik perhatian saya (lihat link ini). Saya juga telah uploadkan pengalaman saya melihat dari dekat ritual malam Jumat Legi di Puhsarang. (lihat link ini).

Kali ini saya lanjutkan cerita saya tentang kompleks Gereja Tua Santa Maria yang juga ada di Puh Sarang. Jalan-jalan pagi, saya akhirnya tiba di kompleks gereja tua Puh Sarang. Gereja ini dibangun dari batu-batu gunung warna abu-abu kecoklatan yang disusun artistik.

Gereja ini ada sejak tahun 1936. Sampai sekarang bangunannya ya tetap seperti aslinya. Memang ada renovasi, namun bentuk bangunan tetap dipertahankan. Pembangunan diprakarsai Romo Jan Wolters CM dan diarsiteki Henry Maclaine Pont. Pikiran-pikiran romo yang sangat menghormati tradisi setempat tersebut dituangkan secara arsitektural oleh Maclaine Port.

Dominasi batu-batu di bangunan lama gereja Puhsarang karena penggagasnya dulu ingin menyajikan citarasa lokal dalam bangunan gereja ini. Puhsarang letaknya di kaki Gunung Wilis merupakan wilayah penghasil batu-batuan gunung. Dulu, penghasilan utama penduduk Puhsarang adalah bertani dan mengambil batu-batuan. Tentu saja lebih baik memakai bahan-bahan yang ada di sekitar daripada mendatangkan dari tempat lain, bukan?


gereja santa maria puhsarang 1936
gereja kuno santa maria puhsarang diresmikan tahun 1936



gereja kuno puhsarang
prasasti gereja santa maria puhsarang

Altar Gereja Puh Sarang
Pagi setelah ritual malam Jumat, gereja tua nan artistik Santa Maria Puh Sarang dalam keadaan terkunci. Namun aku bisa leluasa memotret dari luar dari balik pintu kerangka-kerangka besi yang menyokong bangunan tersebut. Menurut umat Katolik setempat, penyokong atap tersebut dulunya dari bambu namun kini diganti besi biar lebih kokoh. Altar yang saya lihat terbuat dari batu. Terdapat relief-relief di altar kuno itu.  

gereja kuno puhsarang
altar gereja santa maria puhsarang dibuat dari batuan-batuan kokoh.

Atap Gereja Tua Puh Sarang
Puhsarang didesain seperti prahu yang menempel pada bangunan mirip gunung. Melambangkan perahu Nabi Nuh yang terdampar di Gunung Arafat. Lihatlah atapnya yang unik. Di tengahnya terdapat ornamen salib berwarna emas.


gereja kuno puhsarang
atap unik gereja puh sarang dulu disangga Bambu

Lonceng Gereja Kuno Puh Sarang

Menara lonceng ini cukup unik, berada di tengah batu alam yang ditata apik dalam bentuk langsing vertikal. Pembuatannya sebagai penghormatan pada santu pelindung arsitek, Santo Henricus. Di pucuk menara terdapat relief ayam jantan sebagai penanda arah. 

puhsarang kediri
arsitektur lonceng gereja puh sarang dari batu
puhsarang kediri
lonceng gereja kuno puh sarang

Gedung Serbaguna Emaus Puhsarang

Gedung ini struktur dan arsitekturnya menyerupai Gereja Santa Maria. Ada gunungan dan perahu. Atapnya dibuat dari baja tanpa usuk dan reng kayu. Bentuk gentinya unik. Gedung ini dibuat terbuka tanpa tembok. 

emaus puh sarang
atap gedung emaus puhsarang
emaus puhsarang
atap emaus puhsarang

Gua Maria Kecil Puh Sarang
Puhsarang memiliki tiga Gua Maria. Selain Gua Maria Laurdez setinggi 4 meter, ada dua gua Maria kecil lagi. pertama, gua Maria di sebelah kiri gereja tua, satunya lagi di dekat Gedung Serbaguna Emaus. Gua Maria di dekat gereja tua Santa Maria pintu masuknya berbentu segitiga. 

Untuk Gua Maria segitiga, saat saya berkunjung, dua orang bermeditasi. Setelah meditasi, salah satunya membersihkan lelehan lilin para peziarah yang datang pada malam Jumat legi.   

Keunikan Gua Maria Segitiga ini juga karena Maria dilukiskan memakai pakaian ala Jawa. Rambutnya terurai tanpa kerudung. Patung Maria dilingkari tulisan berbahasa Jawa dari pelat kekuningan: "Ibue Maria Ingkang Pinoerba Tanpa Dosa Asal, Moegi Mangestonana Kawoela Ingkang Ngoengsi Ing Panjenengan Dalem" (Bunda Maria yang Terkandung Tanpa Dosa Asal, Semoga Berkenan Merestui Aku yang Datang Berlindung Kepada Engkau). 

Menurut salah satu peziarah, Gua Maria ini didatangi banyak orang untuk bermeditasi, tak cuma dari kalangan Katolik. Terutama, mereka sreg karena menawarkan lokalitas.

gereja puhsarang
gua maria di sebelah gereja tua
gereja puhsarang
bunda maria tampil dengan baju ala jawa dan rambut digerai, dilingkari tulisan berbahasa Jawa

Kalau yang di bawah ini merupakan Gua Maria kecil yang terdapat di dekat Gedung Serbaguna Emaus, dibangun tahun 1986. Menurut keterangan penduduk setempat, gua ini dibangun oleh Romo Emilio Rossi CM, pastur yang sangat dekat dengan rakyat. 

gua maria puhsarang
gua maria di samping gereja tua puhsarang

Makam Romo Emilio Rossi, CM di Puh Sarang

Romo Emilio Rossi, CM merupakan pemimpin umat Katolik yang meninggal pada Maret 1999 merupakan pemimpin yang merakyat. Wasiatnya intinya adalah ingin dimakamkan di tengah-tengah umatnya. Jadi, kendati di Puhsarang tersedia Maosoleum (makam) romo-romo, namun Romo Emilio Rossi, CM tetap dimakamkan di tengah-tengah umatnya seperti wasiatnya. 

puhsarang makam romo emilio rossi
makam romo emilio rossi

puhsarang makam romo emilio rossi
makam romo emilio rossi
makam katolik puhsarang
kompleks pekuburan umat Katolik di Puhsarang
makam katolik puhsarang
kompleks pekuburan umat katolik puh sarang, di mana romo emilio rossi juga dimakamkan di tengah umat sesuai wasiatnya





Tidak ada komentar:

Posting Komentar