Rabu, 18 Mei 2016

Gladak Perak, Sejarah Penting Lumajang yang Hampir Terlupakan

Lumajang, Jawa Timur memang seperti serpihan surga bocor ke dunia. Baru kebun salaknya saja sudah ngangeni. (Lihat kisah mbolangku di sebuah keluarga di Pronojiwo, kaki Gunung Merapi). Sebelum saya lupa, ini saya posting jembatan legendaris yang bernama Jembatan Gladak Perak yang suka saya lewati dalam perjalanan mbolang ke Malang lanjut Lumajang atau sebaliknya.

wisata lumajang
jembatan gladak perak, dekat piket nol lumajang
Inilah jembatan Gladak Perak yang saya maksud. Terletak di kawasan Piket Nol Lumajang. Siapa pun yang akan ke Lumajang dari arah Malang Selatan, atau sebaliknya, pasti melihatnya dari jembatan (baru) yang pasti kita lewati. Piket nol sendiri merupakan suatu tempat tertinggi di jalur selatan Jawa. Dari sini kita bisa melihat Semeru, pantai, dan lain-lain. Dulu di zaman Belanda, lajur ini diharapkan menjadi tempat pemeriksaan kendaraan. Karena posnya sering kosong, dinamai piket nol.

Dulu, sebelum dibangunnya jembatan kokoh yang baru, jembatan Gladak Perak inilah penghubung dua kota yakni Lumajang dan Malang, kalau kita mengambil jalur selatan. Karena jembatan Gladak Perak sudah tua dan besinya karatan, dibangunlah jembatan baru. Tapi kalau untuk jalan-jalan atau naik sepeda saja sih, jembatan lama ini masih aman.

Di ujung jalan jembatan baru, ada warung yang kopi tubruknya enak banget. Hawa sejuk Gunung Semeru, ditambah pemandangan indah di sekitar jembatan Gladak Perak, membuat kopi tubruk warung ini tambah sulit dilupakan. Saya pastinya mampir ke sini kalau lewat. Nggak ada rest area yang senyaman wilayah Gladak Perak.

Oke, cuma warung biasa di situ. Bukan restoran mewah. Tapi rasanya boookkkkk....

Yang mengasyikkan juga, pemandangannya keren. Bukit beserta pepohonannya adalah tempat monyet-monyet jinak yang kadangkala juga bertandang sampai ke jalan. Enaknya, wilayah ini sepi.

ujung jembatan baru di sekitar piket nol. dari sini kita bisa melihat jembatan gladak perak lama.

Jarang dilewati meski ini satu-satunya jalur selatan Malang-Lumajang. Mungkin karena jalanan curam dan berliku, orang lebih suka pakai jalur non selatan.

Sejarah / Asal Usul Gladak Perak

Gladak perak kini sendirian seakan terabaikan. Jarang ada yang tahu jembatan ini penting artinta, terutama di zaman dulu. Gladak Perak merupakan jembatan bersejarah. Dibangun pemerintah Belanda pada tahun 1925-1940. Bayangkan, 15 tahun bro. Tahun 1947 jembatan ini dihancurkan akibat pernyaiang. Tujuannya adalah agar pasukan Belanda tak meringsek dari Malang sampai Lumajang. Tahun 1952 jembatan ini dibangun kembali. Karena sudah tua, tahun 2001, pemerintah membangun jembatan baru di sebelah Tenggara jembatan lama.

Mengapa dinamakan Gladak Perak? Sejarah atau asal-usul Gladak Perak ada beberapa versi. Ada yang mengatakan, jembatan itu berawarna keperakan kalau ditimpa matahari, makanya dinamakan Gladak Perak. Namun ada yang menyatakan pembangunan jembatan itu memakan ongkos mahal sekali. Begitu banyak uang perak yang keluar demi membangun Jembatan Gladak Perak.

Legenda yang beredar di masyarakat menyatakan nama jembatan ini ada kaitannya dengan perhiasan perak milik seorang penari cantik di wilayah ini. Pembangunan memakan banyak korban dan sebagai tumbal dipakailah perhiasan perak tersebut.

Banyak yang bilang jembatan Gladak Perak angker karena dulu dipakai untuk tempat pembuangan mayat saat peristiwa G30S PKI. Entah benar entah tidak, namun lingkungan yang sepi di sini memang membuat bulu kuduk merinding.

Apa pun kisahnya,yang jelas Gladak Perak sangat asyik. Ya kopinya, ya pemandangannya. Setuju, kan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar