Jumat, 13 Mei 2016

SEJARAH KAMPUNG KEMASAN GRESIK

Di Blog ini saya tuliskan juga pengalaman saya datang ke obyek wisata sejarah di Gresik yakni Kampung Kemasan (LIHAT DI LINK INI), yang penuh bangunan tua dan eksotik. Sesungguhnya pemilik bangunan-bangunan tua tersebut masih satu keluarga. 

arsip keluarga kemasan gresik
arsip sejarah kampung kemasan gresik
saya beruntung di kampung ini bertemu dengan tokoh kampung Kemasan yang juga peminat masalah budaya, yakni Oemar Zainuddin. Pak Oemar yang berprofesi sebagai pendidik.Cita-citanya antara lain ingin merevitalisasi kejayaan Kampung Kemasan Gresik, kampung yang dicintainya. 

Oemar terus mengumpulkan bukti kesejarahan kampung tersebut lewat aarsip kuno keluarganya. Ternyata arsip tersebut tidak cuma cerita Kampung Kemasan Gresik, namun juga  secara luas juga Kota Gresik.  Dari arsip itulah, kita tahu bagaimana perkembangan Kota Gresik di masa kolonial Belanda. Kita juga tahu, ternyata pribumi Gresik sangat tangguh saat itu.

Saat bertandang ke rumah Oemar, saya juga memotret arsip berharga tersebut. 

Oemar Zainuddin telah menulisnya di buku: Kota Gresik 1896-1916, Sejarah Sosial, Budaya, dan Ekonomi. Buku tersebut diterbitkan penerbit Ruas, Depok, tahun 2010. Oemar Zainuddin bercerita Gresik pergantian abad ke-20 tersebut, bertolak dari arsip-arsip kuno, sepanjang tahun 1896-1916.
Arsip-arsip itu membahas  “Keluarga Kemasan”, dalam kaitannya dengan perkembangan ekonomi, sosial dan budaya Kota Gresik masa itu. 

oemar zainuddin kemasan gresik
oemar zainuddin, pegiat budaya di Gresik
Arsip berupa surat-surat niaga, laporan keuangan, foto-foto, dan formulir pajak. Tidak hanya ditulis dalam huruf latin berbahasa Indonesia, namun juga beberapa ditulis dalam bahasa Arab Pegon. Ada pula formulir berhuruf Jawa. Sebagai pelengkap, wawancara dengan sumber terkait juga dilakukan penulis. Tak lupa data-data sekunder dari berbagai buku dan penelitian tentang Gresik juga disertakan. 

Oemar Zainuddin merupakan Generasi keempat dari H. Oemar Akhmad, saudagar yang memiliki usaha sarang burung wallet dan  toko kulit  yang kemudian jadi cikal bakal industri kulit di Gresik. H. Oemar Akhmad memiliki lima putra yang kemudian mewarisi bisnisnya di bidang perkulitan, yakni Asnar, H. Djaelan, H. Achmad Djaenoeddin, H. Moeksin, dan H. Abdul Gaffar. Penulis buku ini yakni Oemar Zainuddin merupakan cucu H. Achmad Djaenoeddin, putra ketiga.

Ketenaran keluarga ini sampai ke luar Gresik bahkan Batavia, antara lain bisa dibuktikan dari arsip-arsip surat pos yang datang dari berbagai kota di Indonesia yang rata-rata hanya mencantumkan nama salah satu dari lima bersaudara tersebut tanpa alamat, kecuali pencantuman Kota Grissee, namun selalu sampai. 

Kejayaan keluarga ini juga masih bisa dilihat kini dari rumah-rumah megah campuran gaya Kolonial dan Cina di Kampung Kemasan Gresik, yang usianya lebih dari satu abad. Rumah-rumah tersebut dibangun dengan tukang pilihan yang berasal dari, imigran dari Cina yang sangat ahli membuat bangunan. Meski bangunan di Kampung Kemasan Gresik tidak sedikit yang juga megah, namun dominasipilar-pilar  Eropa, warna merah, dan ornamen Cina merupakan ciri khas bangunan milik keluarga ini.    

rumah kemasan gresik
buku sejarah kemasan
Semula, H. Oemar Akhmad, ayah lima bersaudara tersebut, sekalipun sukses berdagang kulit, namun ia belum punya pabrik kulit. Karena usia, ia mengundurkan diri dari dunia bisnis tahun 1896. Sebuah pabrik penyamakan kulit, yakni Pabrik Kulit Kemasan dibangun lima bersaudara anak H. Oemar Akhmad selang dua tahunan berkiprah meneruskan usaha sang ayah. Modalnya, selain dari keuntungan toko kulit, juga dari hasil usaha wallet yang juga dirintis H. Oemar Akhmad.

Pabrik Kulit Kamasan sangat jaya. Kliennya bahkan dari Jepang. Bahkan Raja Solo juga menjadi klien fanatik perusahaan kulit ini, dalam salah satu arsip foto yang disertakan dalam buku, mengunjungi rumah Haji Djaelan dan berfoto bersama Keluarga Kemasan.    

Kesuksesan lima bersaudara ini di samping menjadi kebanggaan bagi warga Kota Gresik, juga berpengaruh luas pada kondisi ekonomi, sosial, dan budaya Kota Gresik pada umumnya. Memberikan kewirausahaan masyarakat lokal. Perajin-perajin kulit bermunculan di sekitar Gresik karena pasokan kulit yang telah disamak melimpah. Kerajinan kulit dari Gresik sangat terkenal, di samping karena desainnya memikat, juga karena bahan kulit dari Gresik memiliki kualitas baik. Tidak hanya itu, keluarga ini juga berkontribusi memberikan semacam kredit bagi pengusaha-pengusaha yang menjadi klien-kliennya.


Tidak hanya di bidang ekonomi keluarga ini berkontribusi bagi Gresik. Dalam bidang kebudayaan, keluarga ini berkiprah menggali dan melestarikan seni tradisional dengan mendukung even-even budaya masa itu. Dalam bidang pendidikan keluarga ini mendirikan kursus setingkat sekolah rakyat untuk anak-anak boemiputra secara gratis. Waktu itu, memang, sekolah Belanda (HIS) hanya menerima murid anak-anak orang Belanda, Cina, dan Bangsawan Kaya. Pelajaran yang ditekankan dalam sekolah gratis ini adalah membaca, menulis, berhitung dan membuat jajanan. Setelah menamatkan sekolahnya, diharapkan lulusan bisa mandiri mempraktikkan apa yang diajarkan di sekolah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar