Minggu, 19 Juni 2016

RANU KLAKAH, DAMAI DI KAKI GUNUNG LEMONGAN

Gunung Lemongan berdiri tegak di sana. Air danau berdiam di bawahnya. Menyaksikan air keperakan, juga aktivitas petani keramba saat matahari terbit adalah anugerah tak ternilai. Akankah 10 tahun lagi keelokannya masih sama? Atau, sudah pupus karena wilayah ini kehilangan sumber air hari ke hari?   
rute ranu klakah
danau ranu klakah saat matahari terbit

wisata lumajang
ranu klakah lumajang

Ranu Klakah merupakan danau alami terbesar di Jawa Timur. Letaknya di Tegalrandu Kecamatan Klakah, Lumajang, Jawa Timur. Waktu tempuh dari Surabaya sekitar 2 jam 15 menit ke arah barat daya.. Kalau dari Malang sekitar 2 jam.  

Ranu itu artinya danau. Jadi, Ranu Klakah berarti Danau Klakah. Kemolekan dan kesan menentramkan dari danau inilah yang membuat banyak orang tertarik ke sini. Oh ya, Ranu Klakah biasanya merupakan titik tolak para traveller sebelum menuju Ranu Bedali dan Ranu Pakis. Dari Ranu Klakah ke kedua Ranu ini hanya sekitar 15 menit waktu tempuh. Maka jangan lewatkan kedua Ranu ini juga kalau masih ada waktu.

Berkunjung ke ranu-ranu ini kita cukup pergi ke utara dari Kota Lumajang. Jalannya cukup mulus.

Malam cukup sepi, tapi indah saat bintang betebaran di langit. Dan pagi adalah saat tepat untuk menikmati Ranu Klakah. Saya beberapa kali mendirikan tenda, menikmati malam di sini. Dan jelang matahari terbit,pastinya sudah bejalan-jalan menyusuri danau dan tebing-tebing tempat berumah para nelayan.  

Di danau yang airnya hampir tak terusik, betebaran keramba nelayan. Ada beberapa perahu di tengah danau. Kecil-kecil  bagai noktah Sementara di sisi yang lain dari danau tersebut, anak-anak mandi bergembira. 

Di ujung gang-gang perkampungan di sekitar Danau Ranu Klakah, para ibu menjual ikan danau dengan harga yang sangat terjangkau.  

Sedikit siang, warung-warung di sekitar danau mulai buka. Warung tersebut khas desa setempat. Sajian ikan danau dapat kita nikmati . Seringkali warung-warung tersebut juga menyajikan pisang agung rebus (pisang lokal) yang nikmat. Atau kalau lagi musim, kita bisa mencicipi buah nangka yang nikmat.

Pendeknya wilayah ini recommended buat kamu yang suka menikmati eloknya danau di waktu pagi. 

Kelangkaan Air

Tapi saya tidak ingin cuma kisahkan yang baik-baik saja. Karena, semakin kamu suka akan sesuatu pastinya kamu ingin tahu dengan detil apa yang kamu suka. Ini kisah tentang lingkungan Ranu Klakah yang terkoyak.  

Saya kisahkan agar kamu semakin ingat untuk menjaga lingkungan tempat-tempat wisata dengan aksi nyata. Misalnya tidak membuang sampah sembarangan yang pastinya bikin kumuh dan merusak sumber air. Kalau bisa, bawalah kembali sampahmu, terutama sampah plastikmu kembali ke kota. Juga, jangan corat-coret apa pun di sini karena akan merusak pemandangan indah. 

Siapa sangka di tempat yang tampaknya "baik-baik saja" ini, menyimpan bom waktu kelangkaan air.  Kisahnya begini. Reformasi di negeri ini tahun 1990-an, di samping membawa berkah juga menyisakan petaka. Salah satunya adalah peristiwa penebangan liar besar-besaran atas hutan di negeri ini. Hutan Gunung Lemongan seluas 6000 hektare pun ikut digunduli habis dalam kurun 1998 - 2002. 

Dulu 30 danau dihidupi Gunung Lemongan, termasuk Ranu Klakah. Berdasarkan data yang dipunyai Laskar Hijau, ormas setempat yang bergerak di bidang lingkungan hidup, dulu ada 32 mata iar di sekitar sini. Sekarang tinggal empat. Padahal 47 persen warga Ranu Klakah berprofesi sebagai petani. Sawah yang harus diairi sebanyak 500 ha. Petani mana yang sanggup bertahan dalam situasi seperti ini? 

Hebatnya warga Ranu Klakah bisa berdamai dengan situasi kelangkaan air. Beberapa pemancing yang saya tanya menganggap ini situasi yang memang harus diterima. Padahal harusnya masalah ini dipecahkan.

Beruntung wilayah ini memiliki pegiat lingkungan Laskar Hijau. Untuk mengembalikan wilayah Gunung 6000 hektare ini seperti sedia kala dibutuhkan waktu 20 tahun. Gunung Lemongan "disentuh" dengan memperhatikan kearifan lokal. Melalui konsep Hutan Setaman, dikembangkan bibit buah lokal,tanaman langka, dan aneka jenis bambu di Gunung Lemongan. Konservasi demi konservasi membuahkan hasil. Kini aneka satwa yang sempat menghilang kembali lagi. 

Oh ya, saya beberapa kali ikut menanam pohon di Gunung Lemongan bersama Laskar Hijau dan para pegiat lingkungan lain. Dan itu tidak saja merefresh pikiran, tapi juga memperkaya batin. Apalagi Ranu Klakah juga mengenalkan saya dengan ritual-ritual kearifan lingkungan yang asyik. 

Mudah-mudahan kamu juga memiliki pengalaman baik di sini. Utamanya kamu yang suka mancing dan doyan ikan-ikan danau.

Setahun sekali,sekitar Juli, ikan-ikan naik dengan sendirinya akibat suhu di Gunung Lemongan. Warga sudah hapal fenomena ini dan akan sering-sering menebar jaring. Saat yang sangat tepat buat cari ikan atau beli ikan murah meriah. 

 Oh ya, kali lain akan saya ceritakan pengalaman di Ranu Bedali dan Ranu Pakis yaaa...


LETAK LOKASI: 
132 km dari Surabaya ke arah Barat Daya (2 jam 15 menit)
127 km dari Malang kota (2 jam)




wisata lumajang
ranu klakah lumajang
wisata lumajang
ranu klakah lumajang
wisata lumajang
Ranu klakah lumajang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar