Selasa, 20 Desember 2016

Ada Tangga Bidadari di Air Terjun Wae Sai

Bila cukup waktu berkunjung ke Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, sempatkan mengunjungi Air Terjun Wae Sai. Keindahannya yang bagai tirai surga membuat kita nggak ingin pulang. Sungguh!


wisata sulawesi selatan
pelangi abadi di air terjun wae sai (foto: tim sinergi)
Jauh dari jamahan manusia. Tidak ada gedung tinggi. Tidak ada polusi dan bunyi kendaraan bermotor. Sunyi dan asri. 

Ada kesan heroik saat kita bisa mencapai air terjun yang medannya tak mudah ini. Dan mungkin, seperti ini yang dirasakan Joko Tarub, tokoh mitologi Jawa, saat sampai di telaganya bidadari. Berdebar-debar dan merasa bak pahlawan tunggal. 

Air terjun Wae Sai punya hikayat yang mirip. Konon, menurut dongeng setempat, di sinilah tempat persinggahan  bidadari turun ke bumi. Bidadari tersebut turun satu per satu lewat tangga bianglala di sini.

Ya, bianglala. Pelangi. Di sinilah surga untuk menikmatinya. Entah kenapa tempat ini tak pernah absen disinggahi pelangi. Sepanjang siang pelangi terus muncul, seiring sinar matahari yang menerpa bumi. Bila di tengah hari, pelangi terbentuk tepat di bagian dasar air terjun. Hingga lama kelamaan, pelanginya pun bergerak naik ikut menyesuaikan arah sinar matahari. 

Sesungguhnya tidak itu saja keindahan tempat ini. Wae Sai juga menyimpan situs sejarah berupa artefak peralatan batu warisan nenek moyang. Di sekitar lokasi ini menunjukkan bahwa pernah ada kehidupan prasejarah berdasarkan bukti-bukti arkeologis berupa peralatan pada zaman Mesolitikum.

LOKASI AIR TERJUN WAE SAE

Wae Sae merupakan dusun terpencil di dataran tinggi Kecamatan Tanete Riaja. Sekitar 150 km dari Kota Makassar. 

Dari ibukota Sulawesi Selatan ini, kita harus berbelok ke arah timur Kabupaten Barru, tepatnya jalur Barru-Soppeng dengan jarak sekira 40 km dari ibu kota kabupaten. Ambil arah memasuki Desa Libureng. Selama perjalanan kita dimanjakan oleh pemandangan deretan pegunungan yang indah. 

Sampai Desa Libureng, kita sudah tidak bisa berkendara. Perjalanan ditempuh dengan berjalan kaki selama sekitar 40-an menit sd sejam. Selama perjalanan kita akan disuguhi pemandangan indah dari sawah dan hutan bambu.  

Tips Mengunjungi Wae Sai
  • Sebaiknya berkunjung saat kemarau, yaitu sekitar Maret hingga Mei. Musim hujan membuat pelangi tidak muncul.
  • Gunakan kendaraan roda dua karena lebar jalan menuju lokasi lumayan kecil.
  • Bawa makanan dan minuman secukupnya karena tidak ada penjual makanan dan minuman di sini. 
  • Bawalah sampah Anda pulang kembali. Jangan nyampah di tempat yang indah ini. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar