Jumat, 16 Desember 2016

KISAH BIJAK DARI LERENG SEMERU

Berwisata harusnya tidak sekadar melihat lokasi dan objek wisata. Alangkah baiknya jika kita membawa pulang oleh-oleh hikmah atau refleksi yang membuat hidup kita semakin berkualitas. Kali ini saya ingin berbagi tentang kisah bijak dari Lereng Semeru. KIsah ini saya dapatkan dari penduduk lokal lereng Semeru.

wisata lumajang
salah satu sudut pronojiwo lumajang

Bila ingin sekadar refreshing beberapa hari, kadang aku ke Lereng Gunung Semeru. Tepatnya di Pronojiwo, perbatasan Malang dan Lumajang, Jawa Timur. Ada dua keluarga yang kukenal, yakni keluarga Ratih dan keluarga Heri. Keduanya kawanku.

Pernah, beberapa tahun lalu ada serombongan peneliti asing yang hendak meneliti tanaman-tanaman langka di Gunung Semeru. Dalam penjelajahan di Semeru, tiba-tiba mereka berada di satu lokasi yang penuh anggrek langka. Sejauh mata memandang, hanya anggrek itu yang ada. ”Indahnya tidak terlukiskan,” ujar sang guide yang kemudian menuturkannya pada ayah Heri.

Para peneliti itu hanya bisa menangis, terharu, dan berseru, menyebut nama Tuhan menyaksikan keindahan yang kata mereka belum pernah mereka temui tersebut. Yang membuat sang guide kagum, di antara mereka tidak ada satu pun yang ingin membawa tanaman langka satu pun yang ada di situ meskipun jumlahnya, amat sangat banyak sekali. Para peneliti itu cuma bilang, biarlah anggrek-anggrek itu berumah dengan nyaman di Semeru.

Kisah tentang anggrek-anggrek Semeru seketika tersiar dari mulut ke mulut di desa-desa sekitar Semeru. Kata penduduk, mereka tak pernah menjumpai pemandangan itu. Beberapa dari mereka ingin mencarinya. ”Hanya saja, tidak ada satu pun yang berhasil menemukan,” kata sang penutur padaku.

Ada lagi kisah begini. Tetangga Heri pas lewat di Hutan Semeru melihat bunga yang sangat bagus. Namun karena ia ke hutan tersebut tidak untuk keperluan mengambil bunga, kendati bagus bunga tersebut dibiarkannya. Namun di tengah perjalanan, ia ingat akan bunga bagus itu dan ingin mengambilnya untuk ditanam di rumah. Ia sengaja pulang lewat rute yang dilaluinya tadi. Namun, bunga itu sudah tidak lagi ada. Menurutnya sungguh aneh karena jarang ada orang yang lewat di rute tempat bunga itu tumbuh. Sampai sekarang, kabarnya, peristiwa itu begitu membekas.

Kisah-kisah yang dituturkan dari mulut ke mulut sebagaimana di atas, tentu menyisakan pertanyaan pada diri kita. Apakah kisah itu benar-benar terjadi sebagaimana yang dituturkan? Atau sudah ada bumbu-bumbu yang masuk? Apakah para peneliti itu memotret kebun anggrek berhektar-hektar tersebut? Entahlah.

Bagiku, apa pun kisah yang sampai, bisa dimaknai. Aku menduga-duga, hati yang bersih dari para peneliti itu membuat semesta membuka diri. Akan lain kejadiannya bila sebelum penelitian mereka sudah dipenuhi motif tertentu.

Saat kita nihil pretensi ingin memiliki dan nihil nafsu menguasai, saat kita membiarkan sesuatu alami terjadi di bawah lindungan semesta, Tuhan memberikan petunjuk. Mata hati kita dibuka lebar-lebar. Pencerahan yang tidak kita sangka-sangka datang bertubi-tubi, sebagaimana yang dialami para peneliti, juga tetangga Heri saat pertama kali melihat bunga itu. Tapi saat diri kita punya pretensi berkuasa, pintu hati dan pintu pencerahan semesta akan tertutup rapat-rapat. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar