Sabtu, 17 Desember 2016

Berburu Anugerah di Makam Putri Raja Bali yang Islam

Dikira sedang praktik ilmu hitam dengan memakai jubah putih, seorang putri raja dibunuh. Padahal ia sedang memakai mukena untuk salat. Kini kuburnya di dekat terminal Tegal Denpasar disakralkan, bahkan banyak didatangi peziarah yang memburu anugerah.


makam keramat di denpasar
makam AA  Sagung Sayu Rai alias Siti Khadijah


Tidak jelas, tahun berapa kasus pembunuhan putri raja itu terjadi. Namun tragedi itu begitu memilukan. Sampai-sampai kalau diceritakan kembali, pendengar seringkali meni­tikkan air mata. Ini menurut salah satu versi yang paling terkenal, dituturkan Mangku Canang, mantan juru kunci makam tersebut.

Anak Agung Sagung Sayu Rai adalah Putri Raja Anglurah Pemecutan Ill. Hatinya selembut awan. Semasa muda, la dikenal suka menolong siapa saia. Sayang nasibnya apes. Ia jatuh sakit. Entah apa sakitnya, yang jelas la sangat lemah dan tak bisa beraktivitas apa pun. Sampai kemudian datang bangsawan dari Bangkalan Madura, Raden Sasra­ningrat. Lelaki yang dianugerahi "daya lebih" ini jatuh cinta kepada Putri dan berniat menyembuhkannya. Mujur, karena Sang Putri langsung sembuh.

Setelah sembuh, oleh raja, Sang Putri dinikahkan dengan Raden Sasraningrat dan langsung mengubah agamanya dari Hindu ke Islam. Namanya pun berganti jadi Siti Khatijah. oleh suaminya, ia diboyong ke Bangkalan, Madura. Setelah melahirkan bayi perempuan, ia pulang ke Bali, diantar empat dayang. 

Di istana kerajaan ayahnya di Badung, ia memakai mukena, men­jalankan shalat pada sore hari. Patih kerajaan melihatnya dan menganggap sang putri sedang mempraktikkan ilmu hitam leak (ilmu santet). Dari kerajaan, ia pun diseret sampai di lokasi yang saat ini dijadikan kuburannya. Di situ, patih berusaha membunuhnya dengan sebi­lah keris. Ajaib, karena kulit sang putri tak mempan ditusuk-tusuk dengan senjata tajam.

Saat patih putus asa, sang putri berkata dengan lemah lembut. "Kalau patih ingin membunuh saya, pakailah ini," ujarnya sembari memberikan tusuk konde yang la ambil dari ram­butnya. "Tancapkan di tenggo­rokanku," ujarnya lagi. Dengan ter­heran-heran, patih menerima konde itu, lantas menusuk tenggorokan sang putri. Duh, sang putri pun tersungkur, menemui ajalnya.

Aneh, tempat sang putri meninggal tiba-tiba terjadi banjir darah. Hujan pun turun, petir menyambar-nyambar dan suasana sekeliling yang masih terang mendadak gelap gulita. Jenazah putri dikuburkan secara Islam. Dari tanah pekuburan itulah keluar asap yang sangat harum selama 42 hari. Kini, kuburan sang putri ttu dinamai Setra Gandamayu. Sedang kompleks kuburannya dinamai Pura Kramat Agung Pamecutan. 

Persis di kepala makam, tumbuh sebatang pohon. Tak ada yang tahu apa jenis pohon yang kini semakin menjulang dan mencakar langit itu. Penakannya mirip kenanga. Kabar yang beredar menyebut-nyebut pohon itu jelmaan rambut Siti Khatijah yang hitam legam dan menawan.

Kini, kompleks pekuburan tempat Khatijah bersemayam banyak dikunjungi. Tak cuma dari Bali, namun dari seluruh Nusantara. Dart mulut ke mulut beredar kabar, Sin Khatijah yang baik hati itu akan membuat permohonan pengunjung terkabul. Tak aneh, tempat ini juga jadi tempat semedi favorit di Bali. 

Kompleks pemakaman itu tak terlalu besar. Terletak di sebuah kawasan pekuburan, hanya beberapa puluh meter dari terminal Tegal. Kompleks itu cukup teduh, dengan pepohonan tua nan rimbun. 

Makam sang putri tampak sangat terpelihara. Baik arsitektur maupun ornamennya merupakan campuran antara kebudayaan Hindu dan Islam. Pintu gerbangnya sendiri merupakan cermin gabungan dari kebudayaan Hindu dan Islam. Selain berornamen undakan-undakan khas Hindu, citra Islam juga sama-sama kuat menonjol. Misalnya pelukisan kubah dan gambar bulan sabit beserta bintang.

Di sisi makam, terdapat pendopo. Di situlah pengunjung melakukan meditasi pada malam hari. Atau, pendopo juga dimanfaatkan sebagai tempat shalat buat pengunjung ber­agama Islam.

Makam itu sendiri berwarna putih dan berkelambu tersebut dibikin tinggi menjulang clan memiliki atap. Warna putih sebagai cerminan kebaikan hati Sang Putri. Di sekelilingnya terdapat pagar bercat kuning. Pohon yang tumbuh di kepala almarhumah menyembul di atas atap. Praktis yang tampak di bagian dalam makam cuma batangnya yang dialasi kain khas Bali. Meski di atas pagar yang mengelilingi makam sudah beratap, makam itu sendiri juga diberi atap. Pada pintu masuk tempat persemayaman, terdapat dua payung, khas kebudayaan Hindu Bali. 

Di kain makam terdapat beberapa kitab suci Al Qur'an kuno diletakkan di atas meja. Adapun di sebuah dinding terdapat gambar semacam kaligrafi. "Kitab­-kitab yang lebih kuno banyak yang hilang. Mungkin diambil pengun­Jung," ujar Mangku Canang. Di kaki makam diletakkan dua bejana air. Fungsinya untuk dibawa pulang pengunjung atau dipercikkan di muka, setelah dibert doa-doa oleh pemangku (pemimpin spiritual).

Pengunjung yang sakit lumpuh, menurut perempuan ini, konon pernah memanjatkan doa dan minum air yang disajikan itu. Tak lama kemudian la sembuh. Pengunjung makam mem­bludak pada hari-hari besar Islam maupun Hindu. Biasanya mereka minta jodoh, kewibawaan, pang­kat, dan sebagainya. Bahkan daun yang tumbuh di pohon makam juga diburu orang untuk obat. Konon cuma doa baik saja yang terkabul. Sedangkan doa-doa untuk menjatuhkan orang lain tak pernah terkabul. 

Begitulah kisah seorang putri raja dart Bali yang luhur hatinya, yang kini diyakini memberikan banyak berkah bagi para peziarah yang memohon di makamnya. Entah benar atau tidak, tapi ini memang soal keyakinan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar