Sabtu, 31 Desember 2016

Mengenal Tenganan Pengringsingan, Desa Bali Asli

Desa Tenganan, Bali, dihuni oleh orang Bali Aga, yakni Bali Asli atau Bali Mula. Jadi, sebelum orang-orang Bali yang sekarang, yang berasal dari Kerajaan Majapahit datang, merekalah penghuni Bali. Kedatangan orang baru membuat mereka mengungsi di desa mereka yang sekarang. Keunikan-keunikan mereka mengundang banyak pihak, baik peneliti maupun wisatawan datang ke Desa. Seperti apa keunikan itu? 


wisata candidasa
memakai kain gringsing di desa tenganan. sumber: desysuar.blogspot.co.id

Desa Tenganan, Karangasem berlokasi berdekatan dengan spot wisata Candidasa, 70 km dari Bandara Ngurah Rai. Perjalanan dari Bandara ditempuh dalam waktu 1,5 sampai 2 jam. Berkunjung ke Desa ini kita mendapati penduduk yang ramah dengan rumah-rumah unik. Kulit mereka sawo matang. Wajah umumnya berbentuk flat.  

Umumnya mereka hidup bertani. Namun ada pula yang menjadi perajin ukir-ukiran, penganyam bambu dan penenun. Di banyak rumah di desa ini seringkali didapati mereka menenun kain gringsing yang sangat eksotik. Tak heran bila desa mereka juga disebut Tenganan Pengringsingan. 

Tenganan memiliki tradisi ritual Perang Pandan (mageret pandan) yang berlangsung setiap tahun pada pertengahan Bulan Juli. Saat perang pandan kita melihat dua pemuda desa saling sabet memakai duri-duri daun pandan, sampai menimbulkan luka. Luka tersebut akan diobati dengan obat tradisional alami yakni umbi-umbian. Luka tersebut akan sembuh dalam hitungan beberapa hari. 

Tenganan berasal dari kata ngatengahang (bergerak ke tengah). Ini berkaitan dengan cerita berpindahnya warga Tenganan dari pesisir Pantai Ujung mencari tempat lebih ke tengah.

Versi lainnya menyebut Tenganan berasal dari tengen (kanan). Ini berkaitan dengan cerita warga Tenganan berasal dari orang-orang Peneges. Peneges berarti pasti atau tangan kanan.

Sedangkan kata "Pegringsingan" diambil dari kata gringsing yang terdiri dari kata gring dan sing. Gring berarti sakit dan sing berarti tidak . Jadi gringsing berarti tidak sakit , selain itu gringsing merupakan kain tenun ikat ganda khas Tenganan, sehingga diyakini orang yang memakai kain
Gringsing dipercaya dapat terhindar dari penyakit. Lebih kompleks lagi gringsing adalah penolak mara bahaya. 

Masyarakat Bali Aga percaya gringsing memiliki kekuatan magis yang melindungi mereka dari sakit dan kekuatan jahat. Tenganan adalah cerita tentang masyarakat yang terus berjuang mempertahankan identitas yang mereka banggakan sebagai orang Bali asli. Karena gringsing begitu penting dalam kehidupan masyarakat Tenganan, kain ini seperti cermin perjalanan kehidupan masyarakat setempat. Sampai sekarang masih ada yang mengira warna merah gringsing berasal dari darah. Mungkin kain gringsing merah yang digunakan paragadis dalam perang pandan menjadi penanda betapa beratnya pertarungan sang satria.

Kepercayaan mengenai kekuatan magis kain itu lalu menghasilkan mitos sendiri. Keunikan kain Gringsing inilah, antara lain, yang menjadikan Tenganan Pegringsingan memiliki nama atau dikenal di dunia pariwisata. 

Berbagai upacara masuk ke dalam kalender budaya Tenganan. Sebutlah misalnya Usaba Kasa, Usaba Karo, Usaba Ketiga, Usaba Kapat, Usaba Sambah,dan seterusnya merupakan upacara tradisi yang hadir dalam wilayah ritual dan kesadaran akan industri pariwisata. Orang-orang Tenganan yang merantau biasanya pulang saat upacara ini.

Asal-usul Tanah Tenganan Pengringsingan

Tersebutlah Tanah Tenganan sebagai pemberian Dewa Indra. Kisahnya bermula dari kemenangan Dewa Indra atas peperangan dengan Raja Mayadenawa yang otoriter. Dunia, karena peperangan itu, dianggap kotor, karenanya dibutuhkan upacara penyucian dengan kurban seekor kuda. Terpilihkan Oncesrawa, kuda milik Dewa Indra sebagai bakal kurbannya.

Kuda yang dianggap sakti itu memiliki bulu putih dengan ekor warna hitam yang panjangnya sampai menyentuh tanah. Kuda yang diyakini muncul dari laut itu, melarikan diri ketika ia tahu bahwa dirinya akan dijadikan kurban. Dewa Indra kemudian menugaskan Wong Peneges, prajurit kerajaan Bedahulu, untuk mencari Oncesrawa
.
Orang-orang Paneges dibagi dalam dua kelompok, yaitu: Kelompok pertama mencari ke arah Barat dan kelompok kedua mencari ke arah Timur. Kelompok pertama tidak menemukan jejak kuda kurban, sedangkan kelompok kedua berhasil menemukan kuda tersebut dalam keadaan mati pada suatu tempat di lereng bukit, yang sekarang disebut bukit Kaja ‘bukit Utara’, Desa Tenganan Pegringsingan. Hal itu, segera diketahui oleh Dewa Indra. 

Selanjutnya, beliau bersabda untuk memberikan anugerah berupa tanah seluas bau bangkai tercium. Wong Peneges rupanya ‘cerdik’, mereka memotong-motong bangkai kuda itu dan membawanya sejauh yang mereka inginkan. Dewa Indra mengetahui hal itu, lalu turunlah Dewa 6 Indra sembari melambaikan tangan, sebagai tanda bahwa wilayah yang mereka inginkan sudah cukup. Wilayah itulah yang sekarang disebut sebagai Tenganan Pegringsingan. 


tenganan pengringsingan
perang pandan


Tidak ada komentar:

Posting Komentar