Sabtu, 17 Desember 2016

MUSEUM ANTONIO BLANCO: MEGAH BERTABUR PEREMPUAN TELANJANG

Antonio Blanco yang namanya mendunia di jagad seni lukis, mengabadikan karya-karyanya dalam Blanco Renaissance Museum. Seperti apa museum yang berlokasi di Ubud ini?

antonio blano di depan karyanya. (foto: web blanco renaissance museum)
Belasan tahun lalu saya pernah menyaksikan sebuah sinetron di televisi kita yang berjudul Api Cinta Antonio Blanco. Kisahnya romantis. Menggambarkan kecintaan pelukis dunia asal Spanyol Antonio Blanco terhadap Bali. Juga kecintaannya terhadap Ni Ronji, gadis ali Bali yang akhirnya diperistri pelukis ini. Memang, 

Lama juga Blanco berkeliling dunia mencari tempat tinggal yang pas untuk hatinya. Setelah membaca The Island of Bali-nya Miguel Covarrubias, pengelana tempo dulu yang juga penulis, sampailah ia di Pulau Dewata pada usia 39 tahun. 

Dan bisa diduga, Blanco benar-benar tersihir dengan bumi Bali yang eksotik di mana para perawannya tak malu-malu bertelanjang dada dalam keseharian. 

Tahun 1952, Blanco memutuskan untuk menghabiskan sisa hidupnya di Pulau Dewata. Ia menikahi gadis asli Bali, Ni Ronji. Perempuan inilah yang senantiasa jadi sumber inspirasinya.

Blanco yang berjuluk The Dali of Bali (karya-karyanya disejajarkan dengan Salvador Dali) meninggal pada akhir tahun 1999. Sebelum meninggal, ia meramalkan bahwa Bali kelak menjadi pusat kesenian dan kebudayaan dunia.



foto: website blanco renaissance museum

Kendati dikenal sebagai pemuja perempuan, namun toh sampai akhir hayat, istrinya cuma seorang, yakni Ni RonjiBuah cinta Blanco-Ni Ronji adalah anak. Blanco meninggalkan lukisan-lukisan romantis impresionis yang tetap dikenang sebagai karya luar biasa. 

Karya-karyanya umumnya bertema perempuan. Perempuan-perempuan Blanco itu tak cuma telanjang dada, namun banyak yang benar-­benar tanpa sehelai benang pun. Semua lukisan seniman yang juga sahabat Bung Karno tersebut diabadikan di museumnya, di tepi Sungai Campuhan, Ubud. 

Di museum seluas 2 ha itu tersimpan 300 koleksi pribadi Blanco, baik lukisan cat minyak maupun cat air. Namun untuk karya sket, Blanco yang kelahiran 15 September 1911 ini tak pernah menyimpannya. 
Kaya Simbol

Through this portal, pass the most beautiful in Bali. Begitulah kalimat yang terpampang pada gapura masuk kompleks "The Blanco Renaissance Museum" di Ubud, Bali, yang didedikasikan untuk menghormati karya-karya lukis almarhum. Museum Blanco sesungguhnya sudah direncanakan Don Antonio Blanco sejak tahun 1970-an. Namun baru akhir tahun 1998 fondasinya dibangun.

The Blanco Renaissance Museum dibuat sangat megah, sesuai dengan konsep clan keinginan pria yang pernah dianugerahi gelar kebangsawanan "Don" oleh Raja Juan Carlos dari Spanyol. Pada dasarnya, Blanco memang menyukai kemegahan. Konsepnya merupakan
perpaduan antara gaya Eropa clan Bali, sangat kaya simbol.

Secara fisik, memang museum ini gayanya gereja Eropa yang megah. Namun, detail gaya museum sangat kental beraromaBali. "Di Bali tempo dulu, setiap kerajaan besar memiliki gapura yang disebut kurikurung," ujar Mario Blanco, anak lelaki Antonio Blanco.

Memasuki museumnya, kita akan disambut gapura menjulang tinggi, terbuat dari marmer hijau asli Italia. Desain gapura mengambil inspirasi dari tanda tangan Antonio Blanco. Tanda tangan itu dibuat tegak, lantas

menjadi sebuah gerbang setinggi 15 meter. Di pintu museum, kita disambut patung naga yang mencerminkan penjaga museum.

Lukisan-lukisan Blanco dengan aneka bingkai menawan terpampang di dinding-dinding ruangan museum tiga lantai, yang ditata artistik, dengan lampu-lampu yang tersembunyi.

Semua lukisan mempunyai bingkai menawan. "Ketika melukis suatu objek, papa membayangkan seperti apa bingkai yang bakal menghias lukisannya. Masing-masing lukisannya memiliki bingkai berbeda. Ia mendesain sendiri bingkai-bingkai tersebut," ujar Mario Blanco.

Lukisan yang terpampang tak cuma terdiri dari karya Blanco di Bali, namun juga karya-karya lamanya semasa ia masih berkeliling dunia mencari °tanah harapan". Tampak antara lain karyanya semasih ia di Amerika, bahkan Rusia. 

Nyata benar perjalanan proses kreatifnya dari waktu ke waktu. Setiap tempat yang clikunjunginya, pasti menghasilkan goresan karya berbeda. Semakin lama, semakin matang ciri khasnya yang romantis impresionistis itu. Apalagi ketika sampai di Bali.

Sebuah kubah terdapat di lantai paling atas. Konsepnya sebagai penghormatan terhadap sang pencipta. "Ibarat kalau kita menyuguhkan makanan, makanan itu harus kita tutup," ujar Mario. Sembilan ujung yang ada di kubah tersebut cermin dari mata angin. Di Bali konsep tersebut disebut pangider-ider.

Di sebelah kiri bangunan museum, terdapat sebuah bangunan bersejarah. Di situlah tempat pencarian inspirasi sang maestro. Di kompleks museum ini terdapat pula galeri dan studio tempat Blanco biasa melukis. Sampai kini studio tersebut dibiarkan sebagaimana sediakala.

Dulu, Blanco masih menjual lukisan-lukisan aslinya. Namun sejak tahun 1995, Antonio Blanco talk lagi menjual karya asli.

Dalam mengerjakan karya­karyanya, Blanco tak pernah menyer­takan tahun pengerjaan. "Karena menurut papi, karyanya belum selesai selama ia masih hidup. Meski tampaknya sebuah karya sudah selesai dibuat, namun suatu ketika papi merevisinya," kata Mario.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar