Sabtu, 17 Desember 2016

MUSEUM LE MAYEUR, JEJAK SEJARAH SANUR

Kisah-kasih antara pelukis terkenal tingkat dunia Adrien Jean Le Mayeur dengan penari Ni Pollok asal Banjar Kelandis, Denpasar senantiasa bergema dari dekade ke dekade. Sejarah Pantai Sanur, apalagi dikaitkan pariwisata dan seni, pastilah terkait dengan pasangan mesra beda bangsa ini.


museum le mayeur
interior khas bali di museum le mayeur



Ya, sengaja atau tidak Le Mayeur telah memperkenalkan Pantai Sanur ke berbagai belahan dunia. Rumahnya yang langsung menghadap Pantai Sanur menjadi persinggahan kawan-kawannya dari berbagai penjuru dunia, terutama Eropa dan Amerika.

Di rumah itulah Le Mayeur menemukan kedamaian dengan Ni Pollok. Menambatkan kisah-kasih dan harapannya. Kini rumah itu menjadi museum. Namanya Museum Le Mayeur.

Dari luar, museum tersebut tampak asri. Saat masuk areal museum kita disodori taman dan pepohonan yang indah. Sebuah kolam ikan dengan patung-patungnya yang menawan menarik perhatian. Di bawah teratai yang mengapung di air, di bawahnya ikan-ikan mencari hidup.

Bangunan museum yang dulunya tempat tinggal itu didominasi kayu jati. Di lima ruangan, lukisan-lukisan pelukis yang juga bangsawan Belgia itu digantungkan. Dari data yang dilansir Museum Negeri Bali, lukisan Le Mayeur yang mengedepankan perempuan Bali telanjang dada tersebut berjumlah 88 buah.

Di museum ini kita juga menyaksikan, Le Mayeur tak hanya membikin lukisan dari kanvas, hardboard, tripleks, maupun kertas, namun juga pada kain-kain goni. Kenapa kain goni? Ketika negeri ini masih dikuasai Jepang, ia benar-benar kesulitan memperoleh kain lukis. Karena hasrat melukis ingin selalu dipuaskan, ia pun memakai kain goni sebagai sarana melukis. Koleksi lukisan di atas kain goni sebanyak 22 buah.

Di atas kanvas, Le Mayeur pandai bercerita eksotisme Pulau Bali berikut gadis-gadisnya. Alangkah piawainya Le Mayeur melukis gadis-gadis sedang ngobrol atau menari. Sebagai modelnya adalah istrinya sendiri, yakni Ni Pollok. Di samping menjadi penari terkenal di Bali, Ni Pollok adalah model lukis Le Mayeur, sebelum dan setelah menikah.

Umumnya, gadis-gadis dalam lukisannya bertelanjang dada. Namun gambar-gambarnya nggak vulgar. Sayangnya lukisan-lukisan Lee Mayeur tampak dimakan usia dan terkesan tidak terawat.

Sebagai sebuah museum, lokasi ini sesungguhnya kurang layak karena ruangan pemajangan lukisan senantiasa dimasuki angin laut yang sarat kadar garam. Akan tetapi baik Ni Pollok maupun Le Mayeur kini telah tiada dan keduanya tidak tahu kondisi karya-karya milik mereka saat ini. Lukisan-lukisan tersebut disumbangkan ke pemerintah.

Selain lukisan, museum tersebut juga memajang karya-karya bukan lukisan yang merupakan interior rumah ini tempo dulu. Di antaranya, meja, kursi, lemari dan perangkat gamelan.

Le Mayeur lahir di Bruxelles, 9 Februari 1880. Lelaki ini semasa hidupnya jatuh cinta kronis pada Pulau Dewata. Ia mengenal Bali lewat film-film yang diputar di Eropa. Tahun 1932 ia pertama kali merapat di Pelabuhan Singaraja dengan menumpang kapal laut. Dari Singaraja ia menuju Denpasar dan mengontrak rumah di Banjar Kelandis.

Sesungguhnya Le Mayeur cuma berniat tinggal di Bali selama 8 bulan. Namun apa boleh buat, akhirnya lelaki yang pernah melanglang buana ke berbagai negeri ini tak ingin pulang cepat. Lebih-lebih ia demikian terpikat dengan Ni Pollok.

Ni Pollok dinikahi tahun 1935. Le Mayeur yang lulusan sekolah teknik itu merancang sendiri rumah idamannya. Sedikit demi sedikit ia selesaikan rumahnya, dibantu pemahat terkenal waktu itu, Ida Bagus Made Mas. Semua bangunan didominasi kayu jati dan diukir dengan gaya Bali.

Bukan pekerjaan mudah mengukir kayu jati yang keras di semua ruangan, termasuk mebel. Untuk mengerjakan meja persegi delapan dengan delapan kursi tamu sederhana bahkan memerlukan waktu 6 bulan.

Rumah idamannya ini juga membuatnya sangat dekat dengan masyarakat Sanur. Masyarakat biasa memanggilnya "Tuan Mayor" atau "Tuan Belgi".

Pada tahun 1967, Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan Bahder Djohan mengunjungi rumah Le Mayeur. Ia tak cuma kagum dengan lukisan-lukisan di sini, namun juga mengkhawatirkan nasib barang berharga tersebut di masa mendatang. Maklum, pasangan ini tak dikaruniai anak. Ditawarkannya solusi agar nantinya pemerintah Indonesia saja yang merawatnya. Ide ini disetujui.

Sepeninggal Le Mayeur karena sakit, Ni Pollok sedih. Untuk mengenang suaminya, ia memesan patung dada Le Mayeur dan meletakkannya di atas kolam. Kalau rindu ia akan memandangi patung tersebut. Sehari dua kali, saat masih hidup, Pollok memberi sesaji berupa bunga dan makanan.

Di bawah patung itu Pollok menulis; In leaving memory of: AJ Le Mayeur De Merpes. Born: February 9, 1880, Bruxelles (Belgium). Arrived in Bali 1932. Died in Piece: May 31, 1958, Bruxelles (Belgium). 

tulisan dan foto: alpha savitri untuk Archipelago Inflight Magazine


Tidak ada komentar:

Posting Komentar