Sabtu, 31 Desember 2016

Mads Lange dalam Bingkai Sejarah Kuta Bali

Siapa tak kenal Kuta Bali? Penyuka pantai dan ombak bahkan menjadikan Kuta sebagai destinasi wisata favorit. Pria berkebangsaan Denmark Mads Johansen Lange ikut andil dalam sejarah Kuta. 


monumen mads lange
makam mads lange di dekat Kuta Bali

Ya, Mads Johansen Lange. Ia pria berkebangsaan Denmark. Tahun 1956 ia meninggal dan dimakamkan di Bali.  

Makam Mads Lange berada ada di bagian timur Kuta, di samping Tukad Mati, berjarak sekitar 100 meter dari jalan By Pass Ngurah Rai Kuta. Ada jalan bernama Tuan Lange. Itu menunjukkan Lange bukan manusia sembarangan. Namanya diabadikan sebagai nama jalan. 

Sayangnya, tempat ini pun takinformatif sebagai  objek wisata. Padahal lokasi ini bisa saja dikemas sebagai sebuah wisata sejarah, misalnya dengan keterangan lebih jelas tentang siapa Mads Lange dan bagaimana perannya dalam perkembangan Kuta.

Tak banyak yang bisa dilihat di makam Mads Lange. Hanya ada monumen setinggi sekitar 3 meter dengan tulisan Sacred to the Memory of Mads Johansen Lange. Monumen ini agak terpisah dari kuburan-kuburan lain di kompleks kuburan Tionghoa tersebut.

Dalam berbagai buku tentang Kuta disebutkan bahwa pada zaman penjajahan Belanda, Kuta jadi salah satu pusat perdagangan di Bali. Saat itu, seorang warga Denmark bernama Mads Johansen Lange menjadi syahbandar Kuta. I Made Sujaya dalam bukunya Sepotong Nurani Kuta (LPM Kuta, 2004) menyebut bahwa di tangan Tuan Lange, demikian warga Kuta biasa menyebutnya, ini Kuta makin berkembang menjadi sangat maju dan terkenal.

Menurut Wikipedia,  ia lahir di Rudkobing, Denpark, 18 September 1807 dan meninggal di Kuta, Bali 13 Mei 1856 pada umur 48 tahun. Relatif muda. Ia dianugerahi Orde Singa Belanda, dan menerima medali emas dari pemerintah Denmark atas pencapaiannya. Atas jasanya, Kuta berkembang sebagai kawasan perdagangan internasional pada awal abad ke-19. Ia biasa dijuluki Raja Bali (Kongen af Bali)

Mads Lange pertama kali berlayar pada usia 18 tahun dan akhirnya terdampar di Lombok pada tahun 1834. Dia lalu berdagang mengekspor kopi, beras, buah, rempah-rempah dan tembakaug. Mads Lange juga mengimpor aneka tekstil dan senjata. Namun, karena bermasalah dengan seorang Inggris bernama George King, akhirnya ia pindah ke Bali pada tahun 1839 dan tinggal di Kuta, tempat ia meneruskan usaha dagangnya.

Pada tahun 1844, Lange diangkat sebagai agen resmi pemerintahan Hindia Belanda, mengingat hubungan pribadinya yang erat dengan masyarakat Bali kelas atas terutama I Gusti Gde Ngurah Kesiman (Raja Kesiman) dan juga koneksi dagangnya. Namun, peran barunya hanya bersifat tipu muslihat karena saat itu Belanda sedang menyerang Bali utara dan memblokade jalur laut di selatan. Atas usahanya, Lange dapat mempertemukan Bali dan Belanda di meja perundingan. Setelah penandatanganan perjanjian tersebut, diadakan pesta besar di rumah Lange yang dihadiri oleh 30.000 orang.

Lange memiliki 2 orang putera dari Nyai Kenyer, seorang wanita Bali, bernama William Peter (l. 1843) dan Andreas Peter (1850), dan seorang puteri bernama Cecilia Catharina (1848) dari pernikahannya dengan Ong Sang Nio, wanita Tionghoa. Cecilia kemudian pindah ke Johor, menikah dengan Sultan Abu Bakar dari Johor dan memiliki seorang anak, Ibrahim yang kemudian menjadi Sultan Johor menggantikan ayahandanya.

Pada tahun 1856, Lange sakit dan mohon pensiun, serta memutuskan untuk kembali ke Denmark, namun sayang dia meninggal pada saat kapal yang akan ditumpangi akan berangkat dan akhirnya dia dikubur di Kuta, dan makam Lange dapat terlihat dari Jl. Bypass Ngurah Rai yang menghubungkan Kuta-Sanur. Untuk memperingati Lange, sebuah jalan di Kuta dinamai Tuan Lange.

Pantai Kuta di Bali mulai dikenal sejak 1336 M, dimana Gajahmada dan pasukannya dari Majapahit, mendarat di bagian selatan pantai ini. Karena sering menjadi lokasi persinggahan, pelan-pelan daerah ini menjadi pelabuhan kecil. Warga pun menyebut kawasan di Banjar Segara Kuta ini dengan nama Pasih Perahu yang berarti pantai perahu.

Lantas, sebagaimana saya tulis di atas, Mads Lange, datang ke Bali untuk mendirikan basis perdagangan di Kuta.


Kuta semakin diperhitungkan setelah penulis Hugh Mahbett menerbitkan buku berjudul “Praise to Kuta” yang berisi ajakan kepada masyarakat setempat untuk menyiapkan fasilitas akomodasi wisata. Buku ini bertujuan untuk mengantisipasi ledakan wisatawan yang berkunjung ke Bali. Buku tersebut kemudian menginspirasi banyak orang untuk membangun fasilitas wisata seperti penginapan, restoran dan tempat hiburan.
sejarah kuta
foto mads lange yang berperan dalam sejarah kuta

Padahal tahun 1960-an Pantai Kuta masih sunyi. Para wisatawan pun belum banyak dan mereka dengan santainya telanjang di pantai.

Menjelang akhir 1960-an, Kuta menjadi tempat favorit kaum hippies. Mariyuana, dan obat-obatan lain banyak dijual di sini. Namun setelah tahun 1970-an, turis sudah tidak bisa bebas lagi Mulai ada larangan turis telanjang di pantai. Namun tetap saja Pantai Kuta difavoritkan. 

Waktu itu hotel-hotel tidak banyak sebaliknya Kuta dipenuhi penginapan yang dimiliki penduduk lokal. Di sepanjang Pantai Kuta waktu itu masih terdapat perahu nelayan. 

Kuta tumbuh semakin pesat sebagai tempat wisata andalan setelah Bandara pindah dari Kabupaten Singaraja di kawasan Bali Selatan, Kuta semakin dipenuhi bagunan dan akomodasi untuk kegiatan wisata.

Pada tahun 2002 dan 2005 Kuta sepi akibat bom. Banyak negara melarang warganya untuk datang di Indonesia. Memang, pada serangan pertama, 12 Oktober 2002, teroris berhasil  menewaskan sebanyak 202 orang dan 209 orang lainnya cedera. Sedangkan serangan kedua terjadi pada 2005 tepat di Pantai Kuta.

Namun seiring berjalannya waktu, kuta terus mengalami perbaikan-perbaikan. Pemerintah daerah Bali membuat rencana induk pengembangan wilayah ini untuk melestarikan pantai Kuta sebagai sebuah tempat wisata bernuansakan alam. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar