Sabtu, 17 Desember 2016

TIRTA EMPUL, SUMBER INSPIRASI BUNG KARNO

Wilayah Tampaksiring tak cuma punya sebuah istana yang dibangun Bung Karno pada tahun 1960-an, namun juga memiliki objek-objek wisata lainnya, yakni Gunung Kawi, Samuan Tiga, Pura Kebo Edan, maupun Tirta Empul. Yang terakhir ini adalah sebuah pura berisi tempat pemandian yang disucikan. 

tirta empul bali
salah satu tempat pemujaan di pura tirta empul

pura tirta empul
pemandian di pura tirta empul diminati wisatawan
Kabarnya, dulu Bung Karno sangat senag berdiri di ketinggian Istana Tampaksiring, menyaksikan rakyatnya mandi di kolam yang terdapat di Tirta Empul. Bahkan penduduk sekitar yang sudah uzur menyatakan, Bung Karno kerap membagikan sabun untuk anak-anak yang sedang bergembira di pancuran.. 

Letak tirta Empul sendiri memang tepat di kaki sebelah Timur Istana Tampaksiring. Jadi, kalau berkunjung ke Tirta Empul, Anda bisa menyaksikan kompleks istana asri dengan ratusan pohon pinus yang menjulang tinggi, berdiri kokoh di atas bukit sebelah Barat. Atau sebaliknya, dari samping istana, nun jauh di bawah, Tirta Empul tampak sangat elok.

Bila singgah ke lokasi Tampaksiring pada pagi atau sore hari, saksikan pura beserta pemandiannya berselimut kabut. Bahkan kadang-kadang, siang hari pun kabut menggelantung. Siluet-siluet yang tercipta dari kabut di belakang pepohonan lebat, udara sejuk, juga bukit-bukit persawahan di samping barat dan selatan yang khas Bali, membuat semua sepakat, juga Bung Karno, Tirta Empul sangat ramah dan ingin menerima siapa saja yang hendak berkunjung.

Oh ya, saking terpikatnya dengan tempat ini, Bung Karno membangun kolam pemandian sendiri, di depan kompleks mata air kuno. Tujuannya untuk mandi para tamu negara yang ingin merasakan sentuhan alam Tampaksiring. Kini pemandian yang dibangun Bung Karno itu sudah bersalin fungsi menjadi kolam pemandian umum yang dipakai mandi masyarakat setempat.

Oleh masyarakat Bali, terutama yang berdiam di sekitar Tampaksiring, kolam-kolam di kompleks ini sangat disucikan dan bernilai magis. Umat Hindu Bali datang ke pura dan pemandian Tirta Empul tidak cuma pada hari-hari besar keagamaan, namun juga hari-hari yang dianggap spesial. Mereka yang menjalani ritual di sini adalah yang ingin memohon ampun akibat kata-kata kasar yang diucapkan ataupun mereka yang baru bermimpi buruk. Air pancuran juga diyakini bisa melebur kekuatan sumpah serapah ataupun ilmu hitam. Tak cuma itu, air suci juga dipakai sebagai sarana upacara keagamaan bagi anakyang baru berusia 3 bulan.

Maka, jangan heran tatkala mampir ke kompleks air suci itu, Anda akan mendapati perempuan-perempuan berkain panjang terlilit di badan, nyemplung di kolam bawah pancuran yang tampak dingin dan segar. Mereka biasanya melakukannya setelah selesai bersembahyang di Pura Tirta Empul. Atau, Anda mungkin bisa mendapati lelaki-lelaki yang khusyu berdoa di dalam air. Setelah selesai melakukan ritual, biasanya mereka mendekatkan botol-botol yang dibawanya ke mulut pancuran. Air ini akan dibawa pulang sebagai sarana upacara. Sesekali, Anda juga bisa melihat orang asing yang sedang menjajal muatan spiritual Tampaksiring berkubang di air sembari berdoa khusyu.

Air yang Mengepul

Menurut Drs. Dewa Beratha, sarjana arkeologi asal Tampaksiring, Tirta Empul sesungguhnya suclah lama ada clan dianggap suci. Namun menurut sebuah prasasti yang ditemukan di Desa Manukaya, Tampaksiring, Bali, tahun 884 saka atau 962 masehi, kompleks itu direnovasi oleh Raja Sri Canclrabaya Singha Warmadewa. Saat itulah pancoran-pancoran impor dari India dengan huruf pallawanya dibikin agar semakin suci.

Namun waktu itu, pura di utara pancoran belum acla. Baru pada zaman pemerintahan Raja Masula Masuli alias Maheswara Maheswari, pura dibangun pada 1172 saka atau 1250 masehi dalam masa tahun. 

Sejak zaman itu hingga kini, bentuk fisik pura clan pancuran tidak berubah. Tirta Empul sendiri bermakna "air yang Mengepul".

Dalam babad yang mengandung banyak unsur mitologi disebutkan, air tersebut diciptakan salah satu dewa, yakni Bhatara Indra untuk mengalahkan pengaruh Mayadenawa, raja yang angkuh dan mempertuhankan diri sendiri.

Kompleks Tirta Empul
Dikisahkan, saat pertempuran dengan pasukan Mayadenawa. Oleh Bharata Indra, diciptakanlah air khusus untuk membasuh para pejuangnya yang gugur. Setelah dibasuh air khusus itu, para pejuang hidup kembali clan bisa mengalahkan pengaruh Mayadenawa. Air bikinan Bharata Indra itulah yang kini disebut Tirta Empul.

Bangunan utama Tirta Empul terdiri dari pura clan pancuran-pancuran kunonya. Lumut-lumut yang menempel di semua bebatuan bangunan pura clan pancuran air talk cuma memberi pertanda soal kelembaban tempat itu, namun juga usianya yang sangat purba. Ada kompleks pancuran air di sebelah Selatan dan satu di Barat. Masing-masing kompleks mempunyai beberapa pancuran dalam jumlah berbecla. 

Sejak berabad­-abad silam, air yang dingin dan bening mengalir tak henti­-hentinya pada tandon-tandon batu yang dipenuhi ikan. Bisa Anda saksikan, bagaimana ratusan ikan menari dengan gembira di sekitar pancuran air.

Yang paling khas dari pancuran-pancuran ini adalah huruf-huruf pallawa yang digrafirkan pada bagian dalamnya. Pada masa lalu, resi dari India membuat grafir huruf itu lantas menyucikannya. Bagi umat Hindu, inilah yang membedakannya dengan mata air lain. 

Air yang terpancar pada mata air ini memang tak ubahnya yang memancar pada pancuran lain. Yang membedakan adalah kesuciannya, karena mengalir melewati huruf-huruf yang disucikan seorang resi.

Namun kalau Anda wisatawan biasa, jangan sekali-­sekali punya keinginan untuk nyemplung untuk mandi di air bening yang sepertinya memanggil-manggil Anda tersebut. Air yang mengalir dari mulut-mulut pancuran itu dianggap sangat suci clan cuma untuk orang yang memerlukan. Tirta Empul, sekali lagi, bukan tempat pemandian biasa.  

tirta empul
tirta empul

tirta empul
mengambil air suci

Tidak ada komentar:

Posting Komentar