Sabtu, 07 Januari 2017

Wow, Al Quran Raksasa Ada di Masjid Agung Banyuwangi

Masjid Agung Banyuwangi Baiturrahman punya ikon menarik berupa Al Quran raksasa. Seberapa besar kitab suci umat Islam tersebut? Siapa pembuatnya?

Quran Raksasa Banyuwangi
Al Quran raksasa Masjid Agung Banyuwangi Baiturrahman
masjid agung banyuwangi
masjid agung banyuwangi baiturrahman nan megah
Saat piknik ke Banyuwangi beberapa waktu lalu, lepas adzan dhuhur kami mampir ke Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi di jalan Jendral Sudirman nomor 137 di depan Taman Sritanjung. Masjid ini sangat luas dengan arsitektur megah. Usai salat, saya dan anak saya berkeliling dari ruangan ke ruangan, mulai dari lantai bawah ke lantai atas. Hati kami memang terusik untuk meluangkan sedikit waktu melihat-lihat di situ. 

Tiba di sebuah ruangan, mata saya melihat sebuah kotak kayu sangat besar terletak agak di sudut. Kebetulan di luar ruangan ada seorang bapak sedang bekerja memoles kayu. Saya langsung tanya, benda apakah kotak besar ini? 


"Oh itu Al-Quran raksasa," ujarnya. "Boleh dibuka?" tanya saya. "Saya bukakan karena berat sekali," katanya. 

Bapak ini membuka bagian tengah kotak kayu tersebut dan huruf-huruf Al Quran terbentang besar-besar di hadapan saya. Luar biasa. Tulisannya tulisan tangan. Lembaran demi lembaran kertas yang sangat lebar saya buka satu per satu.  Ayat-ayat Quran ditulis dengan sangat rapi. Saya pun dijelaskan bahwa Al Quran raksasa tersebut dikerjakan oleh ulama dari Genteng, Banyuwangi. Namanya Bpk Abdul Karim.

Dari hasil browsing di internet, ternyata Bpk Abdul Karim memiliki blog. Nama lengkap beliau Drs H. Abdul Karim, kepala sekolah SMANU Genteng, Banyuwangi. Dan ternyata pula,  beliau sudah menulis Al Qur’an akbar dengan tulisan tangan sebanyak empat kali. Yaitu: :
  • Al Qur’an 30 juz ukuran 62 x 86 cm tahun 1998 untuk Masjid Baiturrahman Kecamatan Genteng dengan lama penulisan selama 11 bulan
  • Al Qur’an 30 juz ukuran 80 x 115 cm tahun 2003 untuk Masjid Bustanul Makmur Kebunrejo Genteng dengan waktu penulisan selama 10 bulan
  •  Al Qur’an 30 juz ukuran 150 x 200 cm tahun 2010 untuk Masjid Agung Kabupaten Banyuwangi dengan waktu penulisan selama 10 bulan
  • Al Qur'an ukuran 40 x 60 cm tahun 2014 untuk dimanfaatkan keluarga sendiri dengan waktu penulisan 11 bulan. 
Itu berarti, Al Quran di Masjid Agung Banyuwangi adalah Al Quran terbesar yang ditulisnya. Pembuatannya memakai kertas khusus yang didatangkan dari Jepang. Kotak kayunya dari kayu jati. Al Quran tulisan tangan itu memadukan gaya Timur Tengah dengan gaya Indonesia yang dilengkapi pula dengan tanda kharokat. Itu dimaksudkan untuk memudahkan membaca bagi seluruh kaum mukmin di Indonesia.

Apakah Al Quran raksasa di Masjid Agung Banyuwangi hanya dipakai sebagai ikon? Ternyata tidak. Karena setiap kegiatan tadarusan di bulan Ramadhan ataupun hari-hari penting lainnya, Al Quran ini dimanfaatkan. 

Sejarah Masjid Agung Banyuwangi

Masjid Agung Banyuwangi semula bernama Masjid Jami' Banyuwangi, berdiri di saat kota Banyuwangi pertama kali dibangun. Luas tanahnya 5.245 m2 dan luas bangunan  7.245 m2, dengan kapasitas 5.110 orang. 

Sejarah berdirinya Masjid Agung Banyuwangi tidak bisa dilepaskan dari sejarah Banyuwangi. Didirikan oleh Bupati Blambangan terakhir, sekaligus Bupati Banyuwangi pertama yaitu Bupati Raden Tumenggung Wiroguno I (Mas Alit) yang memerintah selama 9 tahun (1773-1782). 

Sebagaimana saya kutip dari web travelerien.com, pada zaman pemerintahan Mas Alit, perkembangan agama Islam tidak dapat dibendung lagi, apalagi waktu itu Mas Alit sendiri sebagai Bupati Blambangan terakhir atau Banyuwangi pertama yang berkedudukan di Benculuk sudah memeluk agama Islam.


Dapat disimpulkan bahwa agama Islam sudah menjadi agama rakyat Blambangan sekaligus mewarnai juga kehidupan pemerintahan masa itu. Menurut I Made Sudjana dalam bukunya “Nagari Tawon Madu” menyebutkan, bahwa nagari (ibukota) Banyuwangi selesai dibangun pada tanggal 24 Oktober 1774. Sejak itu birokrasi pemerintahan Banyuwangi berjalan lancar sampai sekarang ini.
 
Berdirinya Masjid Agung Baiturrahman di Kabupaten Banyuwangi dengan hak kewenangan pengembangannya mengacu pada kewenangan kepindahan kota kabupaten dari Benculuk ke Banyuwangi. Dapat disimpulkan bahwa Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi merupakan masjid yang bersifat monumental dalam hubungannya dengan penyebaran agama Islam di bumi Blambangan. 

Mas Alit adalah bupati yang sangat diharapkan rakyat Banyuwangi. Pengangkatannya merupakan usulan rakyat, dan tidak semata-semata ditunjuk oleh VOC. Mas Alit sebagai muslim yang taat, dibuktikan dengan penataan arsitektur kota Banyuwangi yang sarat filosofi Islam, seperti Masjid Agung Baiturrahman, Pendapa Sabha Swagatha Blambangan (rumah dinas para Bupati Banyuwangi dari masa ke masa), penjara/Mapolres Banyuwangi, dan alun-alun Taman Sritanjung serta pasar Banyuwangi.

Sejak pertama didirikan, masjid kebanggaan masyarakat Banyuwangi ini telah mengalami beberapa kali renovasi (pembangunan); pertama: 1844, kedua: 1971, ketiga: 1990 & keempat: 2005.   

Masjid Agung Banyuwangi memiliki keistimewaan antara lain, perpaduan antara kebudayaan Islam dan kebudayaan Banyuwangi mendominasi arsitektur bangunan MAB, karena masjid ini adalah simbol kemegahan dan keberhasilan pembangunan Kabupaten/Kota Banyuwa¬ngi. Ornamen masjid kental dengan nuansa daerah. Di antaranya motif mimbar masjid yang secara keseluruhan bernuansa asli Banyuwangi dengan motif ukiran Gajah Oling. 

Makna filosofis Gajah Oling berarti mengingat Allah SWT, menjalankan segala perintah-Nya, juga melaksanakan Sunnah Rasulullah Muhammad SAW sebagai jalan terbaik dalam menjalani kehidupan ini agar harmonisasi hayati bisa terjaga sekaligus terpelihara dengan baik.  Ornamen Gajah Oling ini juga menghiasi deretan jendela tertutup (kaca grafir) di bawah kubah sayap selatan, kubah tengah, kubah sayap utara, tak ketinggalan juga kaca grafir dengan motif Gajah Oling ini menghiasi krawangan besi hollow yang mengitari semua ruangan masjid dari empat penjuru. 

Motif bintang sembilan yang secara keseluruhan juga menghiasi semua pintu dan jendela krawangan kayu jati bersanding dengan ukiran motif Gajah Oling, di samping itu bintang sembilan juga menghiasi kaca grafir krawangan besi hollow bersanding dengan kaligrafi dan motif Gajah Oling juga tak ketinggalan berjejer di list gypsum, variasi kolom atas, menjadi hiasan lampu-lampu bundar ruangan dalam masjid. 

Bintang sembilan memiliki makna yang sangat dalam. Sebagai simbol sembilan kiat Sufi yang tercantum dalam kitab Kifayatul At-Qiya karangan Sayyid Abi Bakar, yang menjadi jati diri menuju Mahabbatullah. Sembilan juga bermakna sembilan wali yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Secara garis besar, bintang sembilan merupakan cahaya ulama yang merepresentasikan akhlaq yang telah diajarkan para ulama sebagai dasar pijakan umat. Bintang yang berjumlah sembilan juga melambangkan para penyebar Islam pertama di dunia dan para penerusnya yaitu Rasulullah Muhammad SAW, Abubakar As-Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi'i, dan Imam Hambali.  
Kemegahan Masjid Agung Baiturrahman sangat terasa ketika menatap ruang mihrab yang cukup luas dan tinggi menjulang sampai menembus atap mihrab. Pilar kokoh tak tertandingi menghiasi pintu masuk mihrab, bagai penjaga Imam Masjid, apalagi dipadu dengan warna keteduhan hijau terang, pilar dan mihrab menyatu dalam kekhusyukan. Mihrab ini memiliki luas 20,30 m2 dengan panjang 5,80 m dan lebar 3,50 m. Sedangkan mimbar terletak di sebelah kanan mihrab. Mimbar terdiri dari tiga anak tangga dan sebuah tempat duduk untuk khatib. Bahan mimbar terbuat dari kayu jati yang halus, bagus, dan kokoh. Mimbar MAB tampak indah-menawan dengan ukiran motif Gajah Oling asli Banyuwangi. 


alquran raksasa banyuwangi
Al Quran raksasa di Masjid Agung Banyuwangi dilindungi kotak kayu jati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar