Jumat, 13 Januari 2017

Thomas Stamford Raffles, Sisi Dramatis Kehidupan Pribadinya


Nama Sir Thomas Stamford Raffles tidak hanya ditulis dalam buku-buku sejarah siswa, namun sering juga saya jumpai dalam brosur ataupun review tempat-tempat wisata. Sampai kemudian saya tertarik mencari sumber-sumber bacaan tentang pria berkebangsaan Inggris yang "menemukan" kembali Borobudur ini. Dan ternyata banyak hal baru buat saya. Lebih dari yang diajarkan di sekolah, dulu. 


sejarah sir thomas raffles
thomas stamford raffles
   
makam raffles
makam thomas raffles (source: findgrave.com)


Sungguh saya takjub dengan karirnya yang cemerlang.  Dari yang bukan siapa-siapa menjadi orang yang dihormati. Dalam rentang hidupnya yang relatif pendek (meninggal pada usia 45 tahun), dia banyak berkiprah mewarnai peradaban (kendati ada sisi-sisi gelapnya karena dia toh mewakili Inggris yang datang untuk menguasai Indonesia. Yang ini akan saya bagikan lain waktu).

Tapi tentu saja, Tuhan tidak menciptakan manusia sesempurna mungkin. Di balik kecemerlangannya di berbagai bidang yang melahirkan decak kagum, kehidupan pribadinya sangat dramatis.  Berbagai kegetiran dialami sejak kecil, bahkan setelah kematiannya. Yang paling menyayat hati saya adalah 5 anak yang dikaruniakan padanya meninggal semua dalam usia muda. Empat meninggal saat balita dan satu meninggal saat usianya menginjak 19. Bahkan saat Raffles meninggal pemakaman dan makamnya menyisakan masalah. Saya akan berbagi kisah itu kali ini. Siapa tahu Anda memerlukan wawasan tentang Raffles saat mengunjungi obyek-obyek wisata di Indonesia dimana Raffles punya andil dalam pengembangannya.  Atau, setelah tahu kisahnya, Anda jadii tertarik berwisata sejarah di bekas rumah Raffles di Bengkulu, misalnya. 

Raffles lahir tanggal 6 Juli 1781 di Port Morant, Jamaika dan meninggal pada 5 Juli 1826 di Middlesex, Inggris. Ayahnya bernama Benjamin Raffles, pemilik sekaligus Kapten Kapal Ann. Ibunya bernama Anne Lyde. Sang ayah terlibat perdagangan budak yang menguntungkan Inggris di Laut Karibia. Raffles tidak setuju dengan pekerjaan sampingan ayahnya yang dianggap kotor. Ia tidak mau terlibat urusan-urusan tersebut. Meski pekerjaan sampingan sang ayah tampak sangat menggiurkan dari sudut materi, namun toh tetap terjerat utang. Bangkrutnya pun habis-habisan hingga harus menjual kapal Ann yang disayanginya pada tahun 1782. Raffles hidup dalam kemelaratan sejak itu. Ayahnya meninggal tahun 1797.

Karir Raffles

Pekerjaan pertama Raffles yakni di Perusahaan Hindia Timur Britanica, sebuah perusahaan dagang semi pemerintah yang berperan banyak dalam penaklukan Inggris di luar negeri. Ia memulai karir tahun 1795 sebagai pegawai biasa. Keinginannya untuk maju membuatnya belajar keras di waktu luang. Pada tahun 1804 dia dipromosikan ke Penang. Penguasaannya akan bahasa Melayu menjadi nilai plus, sebuah ketrampilan yang sangat diperlukan Inggris pada zaman itu. Hingga akhirnya ia ditugaskan di India dan ia menguasai pula bahasa setempat.

Kisah Raffles sampai di Indonesia seperti ini. Tahun 1811, pimpinan Inggris di India yaitu Lord Muito memerintahkan Raffles yang berkedudukan di Penang (Malaya) untuk menguasai Pulau Jawa. Dengan mengerahkan 60 kapal, Inggris berhasil menduduki Batavia pada tanggal 26 Agustus 1811 dan pada tanggal 18 September 1811 Belanda menyerah melalui Kapitulasi Tuntang.yang isinya Pulau Jawa dan sekitarnya di kuasai Inggris, semua tentara Belanda menjadi tawanan Inggris, orang Belanda dapat di jadikan pegawai Inggris.

Di Hindia Belanda yang didudukinya, kebijakan-kebijakan Raffles lebih berbau liberal karena pemikirannya memang liberal,  mencakup:

Birokrasi Pemerintahan
  • Mengubah sistem pemerintahan yang semula dilakukan oleh penguasa pribumi menjadi sistem pemerintahan kolonial yang bercorak Barat
  • Bupati-bupati atau penguasa-penguasa pribumi dilepaskan kedudukannya yang mereka peroleh secara turun-temurun. 
  • Sistem juri ditetapkan dalam pengadilan
Bidang Ekonomi dan Keuangan
  • Petani diberikan kebebasan untuk menanam tanaman ekspor, sedang pemerintah hanya berkewajiban membuat pasar untuk merangsang petani menanam tanaman ekspor yang paling menguntungkan.
  • Meneruskan kebijakan Belanda untuk menanam kopi dan mengekspor..
  • Meneruskan kebijaka pemerintah Belanda yang membolehkan menjual tanah ke swasta. 
  • Penghapusan pajak hasil bumi (contingenten) dan sistem penyerahan wajib (verplichte leverantie) yang sudah diterapkan sejak zaman VOC. 
  • Menetapkan sistem sewa tanah (landrent) yang berdasarkan anggapan pemerintah kolonial. Pemungutan pajak secara perorangan. Jadi bangsa Pribumi membayar pajak karena menyewa tanah dari pemerintah kolonial. 
  • Memonopoli garam karena berkaitan dengan hajat hidup rakyat.

Bidang Hukum

Sistem peradilan yang diterapkan Raffles lebih baik daripada yang dilaksanakan oleh Daendels. Karena Daendels berorientasi pada warna kulit (ras), Raffles lebih berorientasi pada besar kecilnya kesalahan. Badan-badan penegak hukum pada masa Raffles sebagai berikut:

  • Court of Justice, terdapat pada setiap residen
  • Court of Request, terdapat pada setiap divisi
  • Police of Magistrate
Bidang Sosial

Penghapusan kerja rodi (kerja paksa) dan penghapusan perbudakan dan penghapusan  pynbank (disakiti), yaitu hukuman yang sangat kejam dengan melawan harimau.

Bidang Ilmu Pengetahuan
  • Berperan dalam penemuan kembali Candi Borobudur, meneliti Candi Prambanan. 
  • Membangun Gedung Harmony, gedung ilmu pengetahuan di Jl Majapahit. Raffles memang aktif mendukung Bataviaach Genootschap, sebuah perkumpulan kebudayaan dan ilmu pengetahuan.
  • Ditemukannya bunga Rafflesia Arnoldi (bunga bangkai raksasa). Arnoldi adalah ilmuwan yang menemukan bunga bangkai tersebut di Bengkulu. Pada waktu itu Raffles menjadi Gubernur Bengkulu. 
  • Dirintisnya Kebun Raya Bogor
  • Ditulisnya buku berjudul History of Java di London pada tahun 1817  dan dibagi dua jilid
  • Ditulisnya buku berjudul History of the East Indian Archipelago di Eidenburg pada tahun 1820 dan dibagi tiga jilid
  • Memindahkan Prasasti Airlangga ke Calcuta, India sehingga diberi nama Prasasti Calcutta. Yang ini sesungguhnya tindakan yang merugikan Indonesia. 
 Lain-lain: 
 Mengubah sistem mengemudi dari sebelah kanan ke sebelah kiri.

Tahun 1915, situasi tidak menentu di Eropa memaksa Raffles kembali ke Inggris. Convention of London 1814 memaksa Inggris untuk menyerahkan kembali Hindia Belanda ke Belanda. Sedangkan Inggris memperoleh Tanjung Harapan dan Srilangka. Padahal ia sudah begitu mencintai Hindia Belanda (tanah Jawa). Konon Raffles sampai menangis karena harus meninggalkan Jawa. Namun di Inggris ia tidak lama karena setelah itu menduduki pos di Bengkulu.

Wikipedia menulis, tanggal 29 Januari 1819 ia mendirikan sebuah pos perdagangan bebas di ujung selatan Semenanjung Malaka, yang di kemudian hari menjadi negara kota Singapura. Ini merupakan langkah yang berani, berlawanan dengan kebijakan Britania untuk tidak menyinggung Belanda di wilayah yang diakui berada di bawah pengaruh Belanda. 

Dalam enam minggu, beberapa ratus pedagang bermunculan untuk mengambil keuntungan dari kebijakan bebas pajak, dan Raffles kemudian mendapatkan persetujuan dari London. Raffles menetapkan tanggal 6 Februari 1819 sebagai hari jadi Singapura modern. Kekuasaan atas pulau itu pun kemudian dialihkan kepada Perusahaan Hindia Timur Britania. Akhirnya pada tahun1923, Raffles selamanya kembali ke Inggris dan kota Singapura telah siap untuk berkembang menjadi pelabuhan terbesar di dunia. Kota ini terus berkembang sebagai pusat perdagangan dengan pajak rendah

Kehidupan Pribadi Raffles

Karir mulus seseorang bukan jaminan kebahagiaannya. Ini terjadi pula pada kehidupan Thomas Stamford Raffles, sebagaimana direfleksikan Alpha Savitri dalam e-booknya Biografi Singkat Raffles. Masa kanak-kanak Raffles tidak dilaluinya dengan mulus. Dia menentang ayahnya yang melakukan praktek perdagangan budak di Karibia yang menguntungkan Inggris. Dari pekerjaan sang ayah, keluarganya bukan tambah kaya namun terlilit utang banyak sampai akhirnya bangkrut. 

Tentu hidup di keluarga yang melarat sungguh tidak nyaman. Tapi mungkin inilah yang menempanya untuk kreatif dan mandiri.  Karirnya meningkat pesat  karena dia tak pernah putus-putusnya belajar secara otodidak. Menempa skill-nya atas pekerjaan, minat pribadinya, leadershipnya dan mengasah kecerdasan sosialnya. Dari yang semula pegawai rendah hingga menjadi Letnan Gubernur yang berkuasa di Hindia Belanda (Jawa) dan kemudian Bengkulu. Setelah itu dengan sangat berani mendirikan pos perdagangan bebas di wilayah Selat Malaka. Akhirnya didirikanlah negara kota Singapura. 

Raffles dikenal sebagai sosok yang cinta mati terhadap Tanah Jawa. Sebagai penguasa, ia banyak blusukan dan berdialog dengan rakyat Jawa. Itu sebabnya ia demikian merasai denyut kehidupan orang-orang Jawa. Ia juga memiliki feeling yang kuat tentang alam Jawa. Ketertarikannya terhadap dunia antropologi, botani, zoologi, sejarah dan budaya semakin memperluas cakrawala berpikirnya.

Candi Borobudur dari yang semula hanya menjadi onggokan bangunan yang terasing di tengah hutan dan tertimbun hingga menjadi salah satu warisan dunia yang sangat berharga, berkat campur tangannya. Berkat instruksinya untuk menggali dan merestorasinya. Bahkan nama Borobudur pun belum pernah ada sebelum bukunya yang monumental yakni History of Java terbit tahun 1917. Raffles juga  berperan dalam penelitian Candi Prambanan dan candi-candi lain.  

Komitmen Raffles hidup dalam pernikahan demikian tinggi. Ia juga dikenal romantis dan sangat mencintai keluarga. Ia menikah dua kali. Istri pertamanya Olivia Mariamne (dinikahi tahun 1805), meninggal pada 26 November 1814 di usia yang ke-43 tahun. Pada waktu itu usia Raffkes masih 33. Tidak ada anak dalam kehidupan perkawinan mereka, meskipun ada literatur yang menyebutkan, Olivia pernah keguguran. 

Beberapa tahun kemudian ia menikah lagi dengan Sophia Hull pada 22 Februari 1817 dan dikaruniai 5 anak. Hanya satu anak yang hidup. Lainnya meninggal saat anak-anak. Dan satu yang hidup tersebut juga meninggal di usia muda, beberapa hari menjelang ulang tahun.  


Raffles dan Olivia Mariamne

Jejak sejarah kehidupan perkawinan Raffles - Olivia banyak terpahat di Bogor, Jawa Barat. Olivia Mariamne lebih tua 10 tahun daripada Raffles. Meski tidak dikaruniai anak, kehidupan pernikahan mereka bahagia. Hobi mereka cocok satu sama lain, yakni menyukai Pulau Jawa senang bergaul dengan masyarakat Jawa. 

Olivia menyukai bangunan istana Bogor yang dibangun untuk keperluan tempat tinggal petinggi Belanda. Saat Raffles memimpin Jawa, ia tinggal di Istana Bogor. Sayangnya istana ini selain menjadi saksi kemesraan Raffles - Olivia, juga menjadi memori pahit karena Olivia meninggal di tempat yang dulunya bernama Buitenzorg ini. Untuk mengenang Olivia, Raffles sengaja membuatkan tugu cinta di Kebun Raya Bogor. (KISAH TENTANG HAL INI, LIHAT LINK INI)

tugu cinta raffles
tugu cinta di Kebun Raya Bogor

 Bengkulu, Raffles dan Sophia Hull

Beberapa tahun setelah ditinggal meninggal Olivia, Raffles menikah dengan Sophia Hull. tahun 1817. Sophia menemani Raffles sampai Raffles meninggal tahun 1826. Tahun kehidupan perkawinan Raffles - Sophia banyak dihabiskan di Bengkulu.

Raffles menjejakkan kaki di Fort Marlborough Bengkulu pada 19 Maret 1818 karena bertugas sebagai Gubernur Jenderal Inggris di Bengkulu. Bengkulu waktu itu merupakan kota yang terisolasi dari pelayaran dan hanya punya satu komoditi perdagangan: lada. Jasa Raffles bagi rakyat Bengkulu adalah menghapuskan sistem perbudakan dan membatasi permainan sabung ayam. 

Sebagaimana saya sebutkan di atas, Raffles dan Sophia Hull, beserta kelima anak mereka mengalami dera kehidupan yang suram di Bengkulu. Buruknya sanitasi menyebabkan 4 anaknya berusia tak lebih dari empat tahun. Satu anak dikirim ke Inggris agar kehidupannya baik, namun akhirnya meninggal pula pada usia 19.

Anak-anak Raffles yakni: 
Charlotte Sophia Tunjung Segara (1818 - 1822)
Lahir di kapal dalam perjalanan dari Inggris ke Bengkulu tahun 1818 dan meninggal tahun 1822 (usia belum 4 tahun) akibat desentri. Tragisnya, Charlotte meninggal hanya beberapa hari setelah adiknya yakni Stanford Marsden meninggal. Nama "Tunjung Segara" yang tersemat di belakang nama Charlotte adalah hasil pemberian Raden Rana Dipura, bangsawan Jawa. Artinya teratai laut. Charlotte diyakini sebagai anak yang jenius karena pada usia 3 tahun sudah fasih berbahasa Inggris, Melayu, dan Hindustan. 

Leopold Stamford  (1819 - 1821
Meninggal karena sakit pada usia 2 tahun. Raffles dalam sebuah tulisan begitu menyayanginya dan menggambarkan anaknya ini sebagai  “an exceptional child” dan “the pride and hope of my life”.

Stamford Marsden  (25 May 1820 – 3 January 1822)
Nama panggilannya “Marco Polo”, meninggal pada usia 1 tahun 7 bulan akibat entritis (radang usus).

Ella Sophia  (25 May 1821 – 5 May 1840) 
Setelah kehilangan ketiga buah hatinya, Raffles dan Sophia tidak lagi mengasuh anaknya di Bengkulu melainkan mengirim anaknya ke Inggris di bawah asuhan Suster Mary Grimes dan asisten rumah J Rousseau. Namun bahkan Ella pun meninggal karena sakit. menjelang ulang tahun ke 19 dan sebelum pernikahannya dengan John Sumner, anak tertua dari pendeta Winchester Charles Richard Sumner, yang telah direncanakan pada musim panas.

Flora (19 September 1823 –. 28 November 1823)
Meninggal pada usia 2 bulan.


Raffles Meninggal

Raffles meninggal pada 5 Juli 1825, sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-45 di rumahnya High Wood. Sophia menemukan  Raffles tergeletak di bawah tangga rumah berbentuk spiral. Otopsi menunjukkan Raffles terserang stroke. Rupanya penyakit penyempitan pembuluh darah sudah menghantui Raffles sejak lama.  

Karena Raffles menentang perbudakan, keluarganya tidak diizinkan memakamkan di halaman gereja setempat yakni St Mary's, Hendon, Middlesex. Larangan ini dikeluarkan pendeta gereja itu, yang keluarganya memetik keuntungan dari perdagangan budak. Ketika gereja itu diperluas pada 1920-an, kuburannya dimasukkan ke dalam bagian bangunannya. 

Tidak diizinkan didirikan bangunan untuk menandai makam Raffles sampai tahun 1887. Lokasi makam Raffles tidak sengaja ditemukan April tahun 1914 di dalam lemari besi di bawah gereja.

Nasib Makam Anak-anak Raffles

Saya pernah membaca tulisan Mahandis Y. Thamrin di nationalgeographic.co.id bahwa makam anak-anak Raffles di Bengkulu pun sudah tidak ada, saat ditelusuri. Sebetulnya empat buah hati Raffles dan Sophia dikuburkan di Kompleks Permakaman Inggris yang lokasinya tak sampai satu kilometer di timur Benteng Marlborough, Jalan Veteran, Jitra, Bengkulu.

Kompleks pemakaman itu memang tidak terawat. Banyak makam yang kehilangan prasasti penanda. Penjarahan memang terjadi. Demikian pula penggusuran atas makam. Tragisnya, banyak makam yang berubah fungsi menjadi lokasi jemur baju bagi penduduk sekitar.  

Yang jelas, nisan keempat anak Raffles amblas jaya —apakah termasuk dalam makam-makam yang dicuri prasasti penandanya atau telah digusur? Entahlah, tulis nationalgeographic.co.id. Makam yang hanya dijarah prasastinya masih beruntung. Sementara makam dalam kemalangan adalah yang tergusur dan amblas. Keempat buah hati Raffles diduga dimakamkan di sini, namun tak ditemukan bekasnya lagi.

1 komentar:


  1. Definitely believe that which you stated. Your favorite reason seemed to be on the net the easiest thing to be aware of. I say to you, I certainly get annoyed while people think about worries that they plainly do not know about. You managed to hit the nail upon the top and also defined out the whole thing without having side-effects , people could take a signal. Will probably be back to get more. Thanks paypal login my account official site

    BalasHapus