Senin, 06 Februari 2017

Pinisi, Kapal Kayu Melegenda dari Bulukumba

Belum lengkap plesir ke Sulawesi Selatan tanpa mengunjungi Desa Bulukumba. Di sinilah asal pinisi, kapal kayu tradisional yang melegenda di tingkat dunia. Sampai kini pun Desa Bulukumba tanpa pesaing di bidang pinisi. Dan tahukah kamu, proses pembuatan pinisi juga ditemani ritual-ritual khusus ?

wisata dan kuliner sulawesi selatan
kerangka pinisi di bulukumba Sulawesi Selatan

Pinisi yang semula merupakan kapal angkut barang, kini nge-hits di berbagai negara, khususnya Eropa, kapal kayu ini antara lain  dipakai sebagai kapal pesiar, bulan madu, restoran, dan tempat wisata. Pendeknya yang terkesan unik dan mewah. Pengusaha wisata di Bali, pun juga sudah menawarkan pinisi sebagai sarana berwisata bahari.  

Sejarah pinisi tercantum dalam naskah Lontarak I Babad La Lagaligo. Abad ke 14, Pinisi pertama  dibuat Sawerigading, Putera Mahkota Kerajaan Luwu untuk berlayar menuju negeri Tiongkok hendak meminang Putri Tiongkok yang bernama We Cudai. Sawerigading berhasil ke negeri Tiongkok dan memperisteri Puteri We Cudai. Setelah beberapa lama tinggal di negeri Tiongkok, Sawerigading kembali ke kampung halamannya dengan menggunakan Pinisinya ke Luwu. Menjelang masuk perairan Luwu kapal diterjang gelombang besar dan luluh lantak. Puing-puing badan perahu jatuh ke Desa Ara, layarnya jatuh ke Tanjung Bira. Isi perahu mendarat di Tanah Lemo.

Orang Ara memaknai, mereka harus bersatu-padu mengalahkan lautan. Sejak itu orang Ara menjadi spesialis pembuat perahu. Tidak berprofesi lain. Orang Bira yang memperoleh layar perahu belajar ilmu perbintangan dan tanda-tanda alam. Sedangkan orang Lemo-lemo adalah yang memiliki modal dan memakai perahu tersebut.

Tradisi pembagian tugas itu turun dari generasi ke generasi. Akhirnya ketiganya menemukan perahu pinisi yang bukan sekadar benda mati. Pinisi ada kaitannya dengan sistem budaya dalam masyarakat ini.

Memang, pinisi bukan satu-satunya kapal tradisional besar di berbagai peradaban dunia. Namun semua tradisi pembuatan kapal besar tersebut sudah tidak dilanjutkan karena teknologi memungkinkan untuk membikin yang dirasa lebih canggih. Inilah kehebatan orang Sulawesi Selatan yang tetap mempertahankan tradisi pembuatan pinisi sampai sekarang. Dan, justru inilah yang bikin pinisi semakin diburu, khususnya para pengusaha wisata bahari dalam dan luar negeri.

Pinisi sampai saat ini dibuat oleh tangan-tangan asli tanpa campur tangan piranti teknologi modern. Layar dan hembusan anginlah penggeraknya. Seluruh bagian kapal terbuat dari kayu dan dirakit tanpa memakai paku. Di tengah-tengah kapal ada 2 tiang setinggi 35 cm, dengan 7 buah layar jenis Sekunar yang terpisah-pisah dari depan hingga belakang. Meski terbuat dari kayu, kapal ini mampu menghadapi serbuan ombak dan badai di lautan luas.

***

Kelurahan Tanah Beru, Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Masukkan wilayah ini dalam jadwal wisata Anda. Di sinilah lokasi pembuatan pinisi. Di sini pula tersebar orang-orang lokal jenius yang membidani perahu legendaris ini. Untuk sampai ke Tanah Beru dari Makassar, Anda harus menempuh jarak 176 km. Dari Bulukumba masih 23 km-an.

wisata dan kuliner sulawesi selatan
kapal pinisi (indonesiaexplorer.net)

Perjalanan bisa ditempuh dengan monil pribadi atau angkutan umum yang mengarah ke pesisir Pantai Tenggara Sulawesi Selatan. Di pesisir pantai ini, banyak ditemui para pembuat pinisi tersohor. Mereka berasal dari Bugis. Keahlian ini diturunkan dari nenek moyang sejak ribuan tahun silam.

H. Rusdi Muliadi, seorang pengusaha Kapal Pinisi dari Kampung Tanah Lemo, Kecamatan Bonto Bahari, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan menyatakan, Bbhan utama pembuatan pinisi adalah kayu jati, kayu besi, kayu bithi, atau kayu alaba. Perakitannya, papan kayu saling disatukan dan dipaku dengan kayu sisa pembuatan badan kapal.


Kapal pinisi berukuran panjang 15-40 meter. Namun ukurannya tergantung si pemesan.  Proses pembuatan pinisi pun tergantung ukuran dan kapasitas angkut. Tapi umumnya selesai antara 1 sampai 2 tahun. Kalau kapasitas angkutnya 100 ton, selesainya setahun. "Kalau pembuatannya hanya 6 bulan. Yang lama finishingnya, karena ringan tapi rumit," ujar Rusdi.


Pinisi umumnya dibuat oleh tangan 10 ahli yang disebut Sawi, dipimpin satu orang, yang disebut Punggawa atau Kepala Tukang. Punggawa memimpin pembuatan pinisi tanpa ada catatan. Ukuran, desain kapal, ataupun hal-hal lain sudah tersimpan di kepala. Ia memperoleh ketrampilannya secara turun-temurun melalui lisan.

Pembuatan kapal pinisi disertai upacara adat mulai pemilihan kayu, penebangan sampai peluncurannya. Niatnya agar kapal ini bermanfaat besar bagi pemakainya, tidak lekas lapuk dan selamat dalam pelayaran-pelayarannya.

Berapa modal pembuatan satu pinisi? Relatif banyak juga. Rp. 2-3 Miliar . Tapi yang bikin ngiler, pinisi ini bisa laku Rp 5 miliar. Dipasarkannya di beberapa negara Eropa atau pengusaha wisata dalam negeri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar