Rabu, 08 Februari 2017

Lubang Mbah Soero, Jelajah Jejak Kelam Era Kolonial

Sawahlunto, Sumatra Barat merangkum histori penambangan batubara di zaman Belanda. Jejak kelamnya bisa kamu napaktilasi di beberapa tempat, termasuk Lubang  Mbah Soero. Berwisata sejarah di sini tak hanya menambah wawasan, namun juga mengetuk nuranimu.

wisata sumatra barat
lubang mbah suro, berbahan batubara pilihan. mendengar kisah kelamnya bikin hati meleleh. (dok. vivanews)
Lubang Mbah Soero kini jadi satu andalan wisata Sawahlunto. Lokasinya di dalam perut bumi kota tersebut, di Tangsi Baru, Kelurahan Tanah Lapang, Lembah Segar, Kota Sawahlunto, Sumatra Barat. Ini lubang berupa terowongan sepanjang 185 meter. Dulunya areal penambangan batu bara yang dibangun Pemerintah Hindia Belanda. 

Mbah Soero itu nama mandor penambangan saat itu. Ia dikenal memiliki ilmu kebatinan tingkat tinggi dan jadi panutan warga. Mbah Suro ini memiliki lima anak dengan 13 cucu. Istrinya dukun beranak. Mbah Soero meninggal sebelum tahun 1930 dan dimakamkan di pemakaman orang rantai, Tanjung Sari, Kota Sawahlunto, Sumatra Barat. Namanya dicomot sebagai penanda lokasi. 

Lubang Mbah Soero dipakai tahun 1898 - 1932. Ini lubang tambang pertama di Sawahlunto dengan kedalaman 258 dpl. Setelah penambangan usai lubang itu dibiarkan mangkrak. Sampai kemudian tahun 2007 pemerintah merenovasinya untuk kepentingan wisata dengan memperhatikan keamanan, termasuk membangun anak-anak tangga. Namun keasliannya tetap dipertahankan. Atap dan dinding masih dari batubara sebagaimana aslinya. Kualitas batubaranya sangat super. Tanggal 23 April 2008 diresmikan sebagai obyek wisata. 

Lebar lubang tambang sekitar dua meter tingginya dua  meter pula. Lubang dengan kedalaman 15 meter dari permukaan tanah ini sudah dipugar sejauh 186 meter. Aliran air dan saluran udara dibangun agar pengunjung tak sesak di dalam lubang. Lampu penerang juga dipasang. Di dinding tersebut masih bias dilihat bahkan dipegang batubara kualitas super.

Lubang Mbah Soero menyimpan kisah-kisah kelam era Kolonial Belanda. Para tahanan pribumi dari berbagai wilayah sengaja dikapalkan ke sini. Jumlahnya mencapai 20 ribu. Mereka diperlakukan tidak manusiawi di sini. Siang malam dipekerjakan untuk menggali batubara  dengan kaki yang diikat rantai. Maka di sini ada sebutan orang rantai. Itu mereka. Alangkah memilukan! Mereka didatangkan dari berbagai wilayah di Indonesia termasuk Jawa. Saat direnovasi tahun 2007, ditemukan banyak tulang-belulang yang merupakan potongan tubuh manusia.

Kalau kamu berkunjung ke sini, aura mistis dari terowongan ini masih terasa. Nggak ada penerangan yang memadai. Memang dibuat sebagaimana aslinya. Kita bagai masuk lorong tak berujung yang dinding-dindingnya legam. Di sana-sini terdapat rembesan air sehingga lubang ini lembab. 

Harap jangan remehkan aturan-aturan berwisata di lubang ini. Jangan berkata kotor,jangan kosong pikiran. Bila perempuan sedang datang bulan sebaiknya tidak masuk. Dan jangan lupa pakai sepatu boot dan topi pengaman yang disediakan.  

Oh ya, jangan lewatkan yang satu ini. Kalau kamu keluar dari Lubang Mbah Soero, datanglah ke museum yang disebut  Galeri Infobox. Museum yang bertutur tentang bagaimana orang-orang rantai ini dipekerjakan. Peralatan sederhana untuk menambang dipamerkan. Rantai mereka juga ikut tampil. Termasuk foto-foto dokumentasi. Sungguh menggugah nurani. 

wisata sumatra barat
rantai untuk mengikat kaki narapidana pekerja tambang pada zaman kolonial di sawahlunto (foto: wego.co.id)
Asal-usul Sawahlunto jadi kota tambang batubara begini. De Groet, ahli geologi Belanda, tahun 1858 menemukan sekitar Sungai Ombilin Sumatra Barat kaya kandungan batubara. Penemuan ini ditindaklanjuti Ir Willem Hendrik De Greve pada 1867. Penyelidikan dilakukan detil oleh Ir Verbeck. Ditemukan kandungan batubara dengan kisaran mencapai puluhan juta. Produksi pertambangan batubara dari Ombilin dimulai tahun 1892.

Sejak itu Sawahlunto menggeliat dan tumbuh . Belanda membangun banyak bangunan di sini. Kini bangunan-bangunan tersebut ditetapkan pemerintah daerah sebagai cagar budaya dan objek wisata. 

Lubang Mbah Soero
Buka Senin – Minggu Pukul 09:00 – 17:30 WIB
Harga tiket masuk: Rp 8.000
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar